Monday, December 29, 2025

SEMUANYA TENTANG ZELLA

Cerpen Nadhifa Salsabila

 

Suara koper dengan roda empat itu terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer berwarna marun, pemilik koper itu mendorong mulus kopernya memasuki sebuah rumah minimalis namun memancarkan kesan elegan.

“Ini Zella…mulai hari ini dia akan tinggal di sini,” tutur seorang wanita paruh baya yang mengumumkan kedatangan Zella di hadapan keluarga kecilnya, yang tidak lain merupakan bibinya Zella.

“Zella, ini Tania,” tambah wanita itu sembari berjalan ke arah anak sulungnya.

Setelah perkenalan singkat terebut, Zella memasuki kamar barunya yang terletak di lantai dua rumah itu. Mata Zella berkeliling mengamati kamar kecil itu. Semenjak orang tuanya telah tiada, dunia Zella gelap seakan-akan cahaya seketika redup dalam hidupnya. Tidak ada lagi rasa aman, nyaman, dan terlindungi yang ia rasakan. Zella mengusap wajahnya pelan lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur berseprai merah muda di sana. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap dan perlahan mulai terlelap.

***

 

Entah sudah keberapa kalinya Zella melirik arloji di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 16.00 WIB, ia masih setia menunggu Tania yang berada di ruang OSIS sembari membaca buku di bangku koridor, di samping ruang OSIS.

“Rapat OSIS masih satu jam lagi,” ucap seorang laki-laki menyuguhkan sebotol air mineral pada Zella, Zella mendongak mendapati Alendra-teman sekelasnya  berdiri tepat di hadapannya.

“Terimakasih,” tutur Zella menerima sebotol air mineral tersebut.

Alendra mengangguk singkat lalu duduk di samping Zella.

“Kamu… sepupunya Tania ‘kan?” tanya Alendra membuka obrolan setelah keheningan beberapa saat.

“Iya,” jawab Zella singkat yang masih canggung.

Alendra merasakan atmosfer kecanggungan di sekitar mereka, setelah menarik napas singkat lalu menghembuskannya Alendra mulai menanyakan lagi pertanyaan-pertanyaan kecil pada Zella, bahkan sesekali mereka tertawa bersama. Dalam waktu singkat mereka mulai menjadi teman dekat. Si friendly Alendra memang tidak pernah kalah, dalam menambah daftar satu nama teman dekat baru lagi dalam bukunya.

***

 

Seusai sekolah, Zella dan kelompok belajarnya sedang mendiskusikan materi-materi akuntansi yang diberikan oleh pembimbing mereka, di ruang khusus yang disediakan sekolah untuk mereka.

Ting

Sebuah notif singkat masuk di layar ponsel Zella, di dalam ransel putih miliknya.

Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari akan notif tersebut.

Kringg….

Kembali terdengar nada dering dari ponsel yang sama, Zella menoleh, mengalihkan pandangannya dari buku-buku di hadapannya ke arah ranselnya yang berjarak beberapa kursi dari dirinya, ia menoleh menatap keempat temannya itu secara bergantian yang fokus mereka juga teralihkan akibat nada dering itu.

“Angkat saja,” ucap Gamin mewakili.

Zella mengangguk, lalu bangkit dari kursinya dan segera mengambil ponsel yang terus berdering dari dalam ranselnya, ia berjalan beberapa langkah ke arah jendela di sana, ia membuka layar ponselnya dan mendapati nama ‘Tania’ muncul di sana. Kemudian segera mengangkat panggilan tersebut.

“Zel, kalo sudah selesai belajarnya cepet ke lapangan deket rumah,” pinta Tania antusias.

“Kamu sudah pulang sekolah?” tebak Zella mendengar suara skateboard tak jauh dari Tania.

“Eskul baletnya selesai lebih awal 30 menit, cepet datang jangan lama-lama!”

“Zel di sini berisik, nanti  kita bicara lagi aku tutup dulu,” ucap Tania setengah berteriak untuk menandingi suara ricuhnya skateboard.

Tit….

Panggilan terputus, Zella menatap jam di layar ponselnya sebelum mematikannya.

“Temen-temen aku pulang dulu ya, sudah sore,” pamit Zella pada anggota kelompok belajarnya yang masih fokus berkutat dengan buku dan pena mereka.

Setelah mendapat persetujuan dari mereka, Zella segera meraih ranselnya dan melangkah pergi dari ruangan itu.

***

 

 Zella diam, tak bergeming menatap lapangan di hadapannya itu kosong, tidak ada seorang pun di sana, kemudian ia mengambil ponselnya dari balik jas sekolahnya, mencari nama Tania di aplikasi berwarna hijau tersebut. Tidak butuh waktu lama ia segera menekan tombol panggilan yang terletak di bagian kanan pojok atas.

“Kamu dimana?” tanya Tania cepat setelah sambungan telepon terhubung.

Zella mengerutkan keningnya atas pertanyaan dari Tania yang seharusnya justru ia tanyakan.

“Aku sudah di lapangan,” ungkap Zella ragu setelah diam sejenak.

Terdengar suara helaan nafas Tania dari ujung telepon.

“Sudahlah kita bertemu di rumah saja.” finish Tania yang segera mematikan panggilan teleponnya secara sepihak untuk yang kedua kalinya, bahkan Zella yang sudah membuka mulutnya pun tidak sempat mengeluarkan sepatah kata pun.

Rrrkkk...

Zella menunduk, melihat benda apa yang menyentuh kakinya pelan.

“Maaf,” ucap seorang laki-laki yang berlari kecil ke arah Zella, lalu segera mengambil benda berbentuk papan lonjong dengan ujung melengkung itu.

“Aku… baru memulai belajar skateboard, belum terlalu bisa.” tutur laki-laki itu tersenyum kecil sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Oh ya, aku Lian,” laki-laki itu memperkenalkan diri.

“Zella.” balas Zella kecil.

“Mau mencoba?” tawar Lian melirik skateboard yang dipegangnya, setelah berpikir sejenak akhirnya Zella mengangguk menyetujui.

***

 

Hari demi hari sirih berganti dengan cepat, begitu pula dengan kedekatan antara Zella dan Alendra di sekolah dan dengan Lian di luar sekolah. Selain anggota kelompok belajarnya dan Tania, kedua laki-laki tersebut adalah teman dekatnya Zella.

Tania berjalan perlahan memasuki ruang kelompok belajar, seperti yang ia harapkan Zella ada di sana, sedang fokus membolak-balik halaman pada buku cetak tebal di hadapannya.

“Zel, 10 menit lagi aku tampil,” ucap Tania yang berada beberapa langkah dari tempat Zella.

Zella menoleh mendapati Tania dengan seragam baletnya yang lengkap.

“Sebentar lagi aku ke sana.

“Zel, gue gugup.”

“Semangat!!, kamu pasti bisa.” ucap Zella menyemangati, mencoba menghilangkan rasa gugup Tania.

“Kamu juga semangat cerdas cermatnya, bantai habis tim lain jangan kasih kesempatan.” balas Tania antusias.

Hari ini SMA Yusung mengadakan pentas seni sebagai akhir perjalanan dari semester satu. Sebagian siswa ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut, dan sebagian yang lain menjadi panitia dalam memastikan acara tersebut berlangsung tanpa kendala.

Setelah membereskan buku-bukunya di atas meja, Zella segera bergegas ke luar ruangan mengejar waktu agar ia bisa duduk di kursi penonton sebelum Tania tampil, tetapi saat ia berada tepat di depan pintu itu, ia menemukan sebuah tali yang terbuat dari kain berwarna peach di sana, Zella menyadari tali tersebut merupakan salah satu aksesoris dari sanggul rambut milik Tania. Terdengar suara MC yang sudah memanggil nama Tania untuk tampil di atas panggung, Zella bergegas, menuju aula sebelum Tania benar-benar tampil.

Zella terengah-engah, mengatur nafasnya yang masih belum stabil, sekarang ia sudah berada di samping panggung utama tetapi ia terlambat, Tania sudah tampil dengan sorot lampu putih yang hanya meneranginya, ruangan itu gelap semua mata hanya berfokus pada penampilan Tania.

Zella berbalik ingin menuju tempat duduk penonton, tetapi ia segera berhenti, telinganya menangkap suara yang risih didengarnya, ia cepat berbalik menoleh ke arah asal sumber suara. Mata Zella menangkap sebuah lampu gantung kristal berukuran besar berada tepat di atas kepala Tania, chandelier itu terus bergoyang pelan, terlihat penyangganya sudah setengah rapuh. Tanpa berlama-lama lagi Zella mulai berlari ke arah Tania ingin mengeluarkannya dari panggung itu dari chandelier yang sepersekian detik itu akan segera runtuh dalam sekejap.

***

 

Zella membua matanya perlahan, bau khas obat segera menyergap hidungnya di kala itu, matanya berkeliling menjelajahi ruangan yang sepi itu. Hanya bunyi ‘bip’ dari monitor yang terdengar.

Ceklekk….

Pintu ruangan itu terbuka, seseorang masuk ke sana.

“Sudah Sadar?” tanya Haruna, satu-satunya teman perempuan Zella dari kelompok belajar yang terkenal dengan sifat cuek dan tak berperasaannya.

Tidak lama setelah itu terlihat sosok Gamin yang juga ikut memasuki ruangan itu dengan sekantong plastik putih di tangannya.

Kenapa aku bisa di sini?” tanya Zella kecil pada kedua temannya itu.

Gak perlu diinget lagi, kamu udah gak sadar selama tiga hari,” oceh Gamin.  

“Aku bawain bubur instan, makan dulu.” lanjut Gamin sembari mengambil termos di atas nakas.

Saat hendak menuang air panas ke dalam mangkok bubur, tanpa sengaja Gamin menumpahkan air panas tersebut ke kaki Zella, Gamin yang menyadari hal itu segera panik dan pergi mengambil handuk kecil juga sebaskom air dingin. Zella diam termengu menatap kakinya yang sudah memerah. Setelah Gamin kembali ia segera mengompres kaki Zella, dan mengoles tipis salep antinyeri. Zella menoleh ke samping, menatap Haruna yang hanya berdiri dalam diam dengan mata yang terkunci pada kaki Zella.

“Aku baik-baik saja,” tutur Zella tak ingin membuat Haruna khawatir.

Gak ngerasain sakit apapun kan?” tanya Haruna menatap mata Zella.

“Kata dokter kamu lumpuh sementara, akibat otot kaki kamu yang kaget.”

Zella menelan salivanya kasar, sementara Gamin reflek menghentikan aktivitasnya.

Gak perlu panik, kan hanya sementara.” tutur Haruna santai menatap Zella dan Gamin secara bergantian.

***

 

Sudah kesekian kalinya Haruna menekan tombol panggilan di layar ponsel Zella. Tentu saja atas kehendak si pemilik ponsel, tetapi yang terdengar hanyalah suara operator dari seberang telepon.

“Panggilannya gak diangkat bukan gak aktif,” ucap Haruna frustasi.

“Coba sekali lagi, terakhir,” pinta Zella memelas.

“Ini yang terakhir,” tekan Haruna pada kalimatnya, lalu segera memulai panggilan telepon kembali, tidak lama kemudian akhirnya panggilan tersebut tersambung.

“Lian….” Panggil Zella cepat.

“Maaf  Zel aku gak punya waktu, aku lagi jagain Tania sekarang,” ucap Lian lalu segera mengakhiri panggilan tersebut.

“Siapa?” tanya Haruna.

“Orang yang ngajarin aku main skateboard sekaligus tetangga samping rumah.”

“Yaudah, sekarang kamu istirahat dulu, nanti aku coba telepon Alendra dia pasti punya waktu buat kamu,” seru Haruna lembut.

***

 

Setelah beristirahat cukup panjang Zella kembali membuka matanya, langit biru di luar sudah berubah menjadi gelap. Zella melihat Haruna yang keluar dari ruangan.

“Ale…,” panggil Haruna ketika melihat Alendra berjalan melewati koridor rumah sakit.

“Zella di dalam, kamu pasti mau jenguk dia ‘kan?” harap Haruna.

“Na, aku sekarang lagi jagain Tania yang masih sakit.” potong Alendra cepat.

“Kalian teman dekat,” ucap Haruna mengingatkan.

“Na…aku gak serius kok untuk deket sama dia, itu karena Zella sepupu Tania aja,” finish Alendra tegas lalu segera melangkah memasuki lift.

Zella mengalihkan pandangannya dari pintu menuju jendela, perlahan air matanya mulai turun membasahi pipinya. Ia tidak pernah menyimpan rasa benci terhadap Tania, tapi kenapa semuanya harus tentang Tania. Pikiran Zella kembali melayang pada kejadian beberapa bulan silam.

***

 

Zella mengusap matanya pelan, rasa kantuk kian menghampirinya, ia bangkit dari meja belajarnya ingin membuat secangkir coklat panas untuk menemaninya belajar.

“Sepertinya sudah saatnya kita berhenti merawat Zella, merawat seorang anak gadis lagi tidaklah mudah dengan biayanya yang besar.

Langkah Zella terhenti di depan kamar paman dan bibinya mendengar namanya disebut.

“Kita gak akan rugi, dia biasanya yang membersihkan rumah, mengajari kayla belajar, dan membantu Tania.” sela bibi Aira tak setuju.

“Kita gak bisa terus-terusan memanfaatkan anak itu,” protes Paman Ken.

“Bukan memanfaatkan, tapi seperti itulah yang harus ia lakukan kepada keluarga kita.”

Zella mundur beberapa langkah, berbalik lalu kembali ke kamarnya.

***

 

“Inget, hanya 10 menit,” ucap Haruna yang mendorong kursi roda Zella menuju taman rumah sakit.

Gak ada bonus tambahan, ini sudah akhir tahun loh.”

“Zella…aku gak lagi jualan, jadi gak ada yang namanya tawar-menawar.” tolak Haruna.

Zella terkekeh pelan atas pertahanan Haruna yang benar-benar tidak bisa diubah pemikirannya, dia memang benar-benar ber-MBTI-T. Zella menghirup udara segar kala sore itu dan mengamati taman rumah sakit yang tidak terlalu ramai itu.

“Zel, hari ini kita tunda dulu ya cari anginnya, aku lupa ada janji sama anak-anak study group,” ucap Haruna sembari memutar balik kursi roda Zella cepat.

Zella memegang tangan Haruna di pegangan kursi rodanya, kemudian mendongak ke belakang untuk menatapnya.

Gak perlu bohong, aku udah lihat mereka,” sela Zella melirik ke arah Tania, Alendra, Lian, dan kedua paman-bibinya yang sedang bersenang-senang.

“Na....” panggil Zella serak.

“Zel, kamu jangan….“

“Memang dari awal, semuanya gak pernah tentang aku kan?” finish Zella sendu, lalu pergi mendorong kursi rodanya sendiri.

Haruna ingin mengejar, tetapi ia segera mengurungkan niatnya. Ia tahu untuk sekarang Zella perlu waktu sendiri.

“Semuanya tentang kamu Zel…jika bersama orang yang tepat,” lirih Haruna setelah membaca notif yang bertengger di layar ponselnya.

 

Sukajadi, 20 April 2025


 ASMARA YANG TERHUKUM ZAMAN 

Oleh : Aufa Mafaza 


Masa penjajahan Jepang di Indonesia selalu diingat dengan cerita pahit: kerja paksa, jugun ianfu, dan teror yang merenggut kebebasan. Namun, di sela-sela bayang kelam itu, ada kisah yang lembut tapi tak kalah pedih. kisah cinta antara seorang gadis pribumi dan tentara Jepang. Cinta yang lahir bukan di taman damai melainkan di tanah penuh luka.

“Kenapa kamu membahasnya lagi?” tanya seorang sahabat dengan nada cemas.

“Aku tahu dia bagian dari mereka. Tapi, di hadapannya, aku hanya merasa menjadi manusia, bukan sekadar orang jajahan,” kata-kata gadis itu dengan suara bergetar, menabrak dinding antara perasaan pribadi dan tuntutan sejarah.

Malam-malam yang gelap menjadi saksi. Sang tentara berjalan pelan ke gubuk bambu di pinggir sawah, membawa sepotong roti kering – makanan mewah pada masa itu. Sang gadis menyalakan pelita sebagai tanda dia menunggu. Dalam hening, keduanya berbagi makanan dan cerita. Seakan-akan perang tak pernah ada.

Bagaimana cinta bisa bersemi di tanah yang penuh darah dan air mata? Apakah hati manusia bisa begitu buta atau begitu berani menantang garis takdir? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat siapa pun yang mendengarnya merenung: cinta ternyata tak pernah tunduk pada aturan bangsa, tapi selalu menuntut tempatnya sendiri.

“Cinta ini seperti embun di ujung daun,” ungkap sang gadis itu suatu kali. “Indah sesaat tapi bisa hilang seketika karena panas matahari.” Kalimat itu menyentuh, karena dia tahu kebersamaan mereka tak akan lama. Meski rapuh namun dia tetap memilih untuk menjaganya. Seakan-akan setiap detik adalah hadiah.

Orang tua di desa masih bercerita tentang Maesaroh, seorang perempuan yang dulu dikucilkan karena mencintai tentara Jepang. Dia meninggal tua dan kesepian tapi di kotak kecil yang ditinggalkannya, ditemukan secarik kertas bertuliskan huruf Jepang: “Aishiteru.” Entah itu janji, entah itu penyesalan – tapi jelas ada hati yang pernah bergetar di tengah perang.

Kini, bila kita menoleh ke belakang, apakah kisah cinta seperti ini hanya layak disebut dikhianati? Ataukah dia adalah bukti bahwa di tengah-tengah berpikir, manusia tetap mencari kasih? Mungkin penjelasannya tak pernah pasti, tapi satu hal yang jelas: cinta pada masa penjajahan adalah cinta yang mengharukan karena ia berani hidup di tengah badai.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gyo000223. 2025.  Surat dari Timur.  https://www.tiktok.com Di akses 29 Juli 2025

Parist.id. 2018.  Merasakan Getir Cinta dalam Suasana Peranghttps://www.parist.id . Diakses 11 Agustus 2025.

Sabbiruuuw. 2025.  Cinta di Tanah Jajahan.  https://www.tiktok.com . Diakses 29 Juli 2025.

Yovita Arika. 2018.  Ronggeng Kalawu,  Kisah Perjuangan Ronggeng di Masa Penjajahan Jepang.  Kompas.id. 2025.kompas.id  . Diakses 11 Agustus 2025.

Obat Rindu


Oleh : Diyah Ayu Puspitasari 

 

 

​ Obat rindu sebab kehilangan sesosok yang kita cintai.  Mulai dari kehilangan kehadirannya atau perhatian  atau  interaksi dengan seseorang yang kita anggap penting itu ,  bukan dengan menghapus ingatan melainkan merawat kenangan yang pernah ada.

​ “Aku rindu,” bisikku lirih.

   "Aku tahu, tapi...jangan biarkan rindumu itu jadi luka, tapi jadi do'a," kata temanku berjanji.

Nyatanya benar, obat rindu itu dengan kita mendo'akannya. Tetapi , dapat  juga dengan bertemu langsung atau dengan panggilan suara atau vid eo .

Tahukah kamu, lebih dari 70% orang yang pernah kehilangan, mengaku bahwa rasa rindu adalah emosi yang paling sulit mereka hadapi. Banyak juga orang-orang yang bertanya: adakah obat yang benar-benar mampu menyembuhkan rindu bagi hati yang kehilangan  seorang  tercinta yang sudah tiada?

Waktu adalah tabib segala luka. Begitu pula dengan rindu. Perlahan  dia akan mengajarkan hati menjadi kuat.

Pernah suatu malam aku duduk sendiri di atas kasur kamarku. Aku mengingat kejadian  empat  tahun yang lalu. Dimana seseorang yang kucintai pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Kubuka buku diaryku, di sana tulisannya terdapat tangan yang tidak karuan, namun masih dapat dibaca. Juga, terselip foto dirinya dengan tersenyum bahagia.  A walnya aku sedih,  namun  kini menjadi bahagia. Karena dari situ aku mulai menyadari, bahwa kenangan itu bisa menjadi obat, bukan hanya luka. Kemudian, saya teringat sebuah artikel yang pernah kubaca, jika kita mengenang kembali kenangan indah di masa lalu, maka dapat membantu meredakan rasa kesepian, mencegah depresi, hingga meningkatkan kesejahteraan hidup.

Ternyata kunci obat rindu itu bukan melupakannya, melainkan belajar menerima dan ikhlas, bahwa cinta tetap hidup meski sosoknya telah tiada. "Tapi... apakah kenangan manis tidak berubah menjadi luka saat diingat?" Maka, obat kerinduan adalah keberanian menatap masa depan tanpa melepas masa lalu.

 

Daftar Pustaka

 

Halo Sehat. 2024 “7 Cara Menghilangkan Rasa Kangen Yang Sangat Mendalam” https://hellosehat.com. 15 September 2025 .

Imelda Rahmawati 2023 “5 Cara Mengobati Rindu Biar Terobati, Mudah Kok!”. yo o na.id.. Diakses 1 September 2025 .

 

TANAH PAK HAJI DAN TAMAN WISATA ALAM PUNTI KAYU: 

NAPAS HIJAU KOTA PALEMBANG


Oleh : Muhammad Bardan


Di tengah Kota Palembang, di kawasan Kambang Iwak menuju Alang-alang Lebar, terbentang sebuah kawasan hijau yang masih lestari: Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu. Kawasan ini merupakan satu-satunya hutan pinus alami yang berada di wilayah perkotaan Palembang dan telah lama menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan [1].

Secara historis, kawasan ini telah ditetapkan sebagai hutan lindung sejak tahun 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda, dan kemudian pada tanggal 23 Juli 1985, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 88/Kpts-II/1985, statusnya menjadi Taman Wisata Alam (TWA) [2]. Dengan luas sekitar 50 hektar, kawasan ini menjadi paru-paru kota yang sangat penting bagi ekosistem Palembang.

Di masa lalu, warga sekitar mengenal bagian tepi hutan ini sebagai “Tanah Pak Haji”, merujuk pada seorang tokoh lokal yang sering mengingatkan warga untuk menjaga pepohonan di sekitar wilayah itu. Meski sosok ini tidak tercatat dalam dokumen resmi, kisah lisan tentangnya masih hidup dalam ingatan masyarakat sekitar Sako dan Kemuning. Beliau dikenal sebagai penjaga moral lingkungan – mengajarkan agar tanah dan hutan diperlakukan sebagai amanah, bukan milik pribadi semata.

Dengan semangat itu, masyarakat sekitar ikut berperan menjaga kebersihan dan kelestarian hutan, hingga akhirnya kawasan tersebut menjadi cikal bakal Taman Wisata Alam Punti Kayu yang dikenal sekarang [3].

Kini, TWA Punti Kayu berada di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan. Selain menjadi kawasan konservasi, taman ini juga berfungsi sebagai objek wisata edukatif dan rekreasi keluarga [4].

Di dalam taman terdapat beragam flora dan fauna, mulai dari pohon  pinus merkusii , hingga satwa-satwa seperti rusa timor, kera ekor panjang, burung elang, buaya, dan gajah Sumatera yang dikelola di area kebun binatang mini [5]. Fasilitas pendukungnya juga terus berkembang, seperti area piknik, wahana permainan air, jembatan gantung, hingga spot foto alami yang menarik pengunjung dari berbagai daerah [6].

Selain fungsi ekologis, taman ini memiliki nilai sosial dan ekonomi. Banyak warga sekitar menggantungkan hidupnya dari aktivitas wisata ini, seperti menjadi penjaga, pedagang makanan, penyedia jasa sewa kuda, dan pemandu wisata. Dengan demikian, Punti Kayu bukan hanya ruang hijau, tapi juga sumber kehidupan masyarakat lokal.

Namun, keinginan taman ini tidak lepas dari tantangan. Aktivitas manusia, jumlah pengunjung, serta ancaman kebakaran pada musim kemarau kerap menjadi masalah yang harus dihadapi. Oleh karena itu, pihak pemerintah bersama pemerintah terus melakukan rehabilitasi lahan, patroli kebersihan, dan penyuluhan lingkungan bagi pengunjung [7].

Kesadaran masyarakat pun menjadi kunci utama. Mengingat TWA Punti Kayu berperan penting dalam menyerap karbon dan menjaga iklim mikro kota Palembang, menjaga kelestariannya berarti menjaga kesehatan kota itu sendiri [8].

Dengan meningkatnya pembangunan kota, terutama di wilayah barat Palembang, ruang terbuka hijau semakin terbatas. Maka dari itu, TWA Punti Kayu harus menjadi model pengelolaan hutan kota berkelanjutan, tempat di mana konservasi dan wisata bisa berjalan berdampingan [9].

Konsep  ekowisata  yang menekankan edukasi lingkungan perlu terus dikembangkan. Misalnya, setiap pengunjung diberi edukasi interaktif melalui  QR code  di setiap jenis pohon, atau program adopsi pohon untuk sekolah-sekolah di Palembang. Dengan pendekatan seperti ini, generasi muda bisa lebih memahami nilai ekologis kawasan tersebut.

Selain itu, pemerintah kota dan sejarawan dari Universitas Sriwijaya telah melakukan kajian bahwa Punti Kayu dapat dijadikan laboratorium ekowisata yang menghubungkan penelitian kampus dengan kegiatan konservasi lapangan [10]. Upaya ini juga dapat membuka peluang ekonomi baru melalui wisata hijau yang tetap menjaga fungsi lingkungan.

Semangat “Tanah Pak Haji” bisa dimaknai kembali di masa depan sebagai falsafah moral masyarakat Palembang: bahwa kemajuan tidak bisa menyingkirkan alam, dan tanah yang subur harus menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.

Jika masyarakat tetap menjaga komitmen itu, maka TWA Punti Kayu bukan sekadar taman wisata, melainkan simbol kesadaran ekologis Palembang yang hidup – dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan.

Kisah “Tanah Pak Haji” dan Taman Wisata Alam Punti Kayu adalah cerminan hubungan manusia dan alam di tengah dinamika zaman. Dari sejarah kolonial hingga era modern, taman ini menjadi bukti nyata bahwa keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan masih mungkin terjaga.

Punti Kayu bukan sekadar tempat berlibur, tetapi ruang hidup yang mengajarkan arti bersyukur dan tanggung jawab terhadap bumi.
Mirip dengan kata bijak yang sering diingat warga tua di sekitar taman:
“Tanah yang dijaga dengan iman, akan menumbuhkan kehidupan. Tapi tanah yang dilupa, akan melahirkan kehilangan.”

Daftar Pustaka

[1] Wikipedia. (2024). Taman Wisata Alam Punti Kayu. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Wisata_Alam_Punti_Kayu

[2] Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan. (2023). Profil Taman Wisata Alam Punti Kayu. Palembang : BKSDA Sumsel.

[3] Radio Sumeks – Disway. (2023). Kenali Sejarah Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang. Diakses dari https://sumeksradio.disway.id/read/11568

[4] Indonesia Kaya. (2022). Punti Kayu, Hutan Wisata di Tengah Kota Palembang. Diakses dari https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/punti-kayu-hutan-wisata-di-tengah-kota/

[5] Perjalanan Detik. (2023). Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Surga Pinus di Sumatera Selatan. Diakses dari https://www.detik.com/sumbagsel/wisata/d-6765385

[6] Info Hotel Monoloog. (2024). Taman Wisata Alam Punti Kayu, Hutan Pinus di Tengah Kota Palembang.

[7] Universitas Sriwijaya. (2020). Efektivitas Pengusahaan Taman Wisata Alam Punti Kayu. Repositori UNSRI.

[8] Perjalanan.id. (2023). Taman Wisata Alam Punti Kayu – Wisata Edukasi dan Konservasi di Palembang.

[9] FISIP UNSRI. (2021). Analisis Pembangunan dan Manajemen Taman Wisata Alam Punti Kayu.

[10] Info-Target. (2025). Taman Wisata Alam Punti Kayu, Wisata Tertua di Kota Palembang.

SEMUANYA TENTANG ZELLA Cerpen Nadhifa Salsabila   Suara koper dengan roda empat itu terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer ber...