Monday, December 29, 2025

 

TANAH PAK HAJI DAN TAMAN WISATA ALAM PUNTI KAYU: 

NAPAS HIJAU KOTA PALEMBANG


Oleh : Muhammad Bardan


Di tengah Kota Palembang, di kawasan Kambang Iwak menuju Alang-alang Lebar, terbentang sebuah kawasan hijau yang masih lestari: Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu. Kawasan ini merupakan satu-satunya hutan pinus alami yang berada di wilayah perkotaan Palembang dan telah lama menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan [1].

Secara historis, kawasan ini telah ditetapkan sebagai hutan lindung sejak tahun 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda, dan kemudian pada tanggal 23 Juli 1985, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 88/Kpts-II/1985, statusnya menjadi Taman Wisata Alam (TWA) [2]. Dengan luas sekitar 50 hektar, kawasan ini menjadi paru-paru kota yang sangat penting bagi ekosistem Palembang.

Di masa lalu, warga sekitar mengenal bagian tepi hutan ini sebagai “Tanah Pak Haji”, merujuk pada seorang tokoh lokal yang sering mengingatkan warga untuk menjaga pepohonan di sekitar wilayah itu. Meski sosok ini tidak tercatat dalam dokumen resmi, kisah lisan tentangnya masih hidup dalam ingatan masyarakat sekitar Sako dan Kemuning. Beliau dikenal sebagai penjaga moral lingkungan – mengajarkan agar tanah dan hutan diperlakukan sebagai amanah, bukan milik pribadi semata.

Dengan semangat itu, masyarakat sekitar ikut berperan menjaga kebersihan dan kelestarian hutan, hingga akhirnya kawasan tersebut menjadi cikal bakal Taman Wisata Alam Punti Kayu yang dikenal sekarang [3].

Kini, TWA Punti Kayu berada di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan. Selain menjadi kawasan konservasi, taman ini juga berfungsi sebagai objek wisata edukatif dan rekreasi keluarga [4].

Di dalam taman terdapat beragam flora dan fauna, mulai dari pohon  pinus merkusii , hingga satwa-satwa seperti rusa timor, kera ekor panjang, burung elang, buaya, dan gajah Sumatera yang dikelola di area kebun binatang mini [5]. Fasilitas pendukungnya juga terus berkembang, seperti area piknik, wahana permainan air, jembatan gantung, hingga spot foto alami yang menarik pengunjung dari berbagai daerah [6].

Selain fungsi ekologis, taman ini memiliki nilai sosial dan ekonomi. Banyak warga sekitar menggantungkan hidupnya dari aktivitas wisata ini, seperti menjadi penjaga, pedagang makanan, penyedia jasa sewa kuda, dan pemandu wisata. Dengan demikian, Punti Kayu bukan hanya ruang hijau, tapi juga sumber kehidupan masyarakat lokal.

Namun, keinginan taman ini tidak lepas dari tantangan. Aktivitas manusia, jumlah pengunjung, serta ancaman kebakaran pada musim kemarau kerap menjadi masalah yang harus dihadapi. Oleh karena itu, pihak pemerintah bersama pemerintah terus melakukan rehabilitasi lahan, patroli kebersihan, dan penyuluhan lingkungan bagi pengunjung [7].

Kesadaran masyarakat pun menjadi kunci utama. Mengingat TWA Punti Kayu berperan penting dalam menyerap karbon dan menjaga iklim mikro kota Palembang, menjaga kelestariannya berarti menjaga kesehatan kota itu sendiri [8].

Dengan meningkatnya pembangunan kota, terutama di wilayah barat Palembang, ruang terbuka hijau semakin terbatas. Maka dari itu, TWA Punti Kayu harus menjadi model pengelolaan hutan kota berkelanjutan, tempat di mana konservasi dan wisata bisa berjalan berdampingan [9].

Konsep  ekowisata  yang menekankan edukasi lingkungan perlu terus dikembangkan. Misalnya, setiap pengunjung diberi edukasi interaktif melalui  QR code  di setiap jenis pohon, atau program adopsi pohon untuk sekolah-sekolah di Palembang. Dengan pendekatan seperti ini, generasi muda bisa lebih memahami nilai ekologis kawasan tersebut.

Selain itu, pemerintah kota dan sejarawan dari Universitas Sriwijaya telah melakukan kajian bahwa Punti Kayu dapat dijadikan laboratorium ekowisata yang menghubungkan penelitian kampus dengan kegiatan konservasi lapangan [10]. Upaya ini juga dapat membuka peluang ekonomi baru melalui wisata hijau yang tetap menjaga fungsi lingkungan.

Semangat “Tanah Pak Haji” bisa dimaknai kembali di masa depan sebagai falsafah moral masyarakat Palembang: bahwa kemajuan tidak bisa menyingkirkan alam, dan tanah yang subur harus menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.

Jika masyarakat tetap menjaga komitmen itu, maka TWA Punti Kayu bukan sekadar taman wisata, melainkan simbol kesadaran ekologis Palembang yang hidup – dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan.

Kisah “Tanah Pak Haji” dan Taman Wisata Alam Punti Kayu adalah cerminan hubungan manusia dan alam di tengah dinamika zaman. Dari sejarah kolonial hingga era modern, taman ini menjadi bukti nyata bahwa keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan masih mungkin terjaga.

Punti Kayu bukan sekadar tempat berlibur, tetapi ruang hidup yang mengajarkan arti bersyukur dan tanggung jawab terhadap bumi.
Mirip dengan kata bijak yang sering diingat warga tua di sekitar taman:
“Tanah yang dijaga dengan iman, akan menumbuhkan kehidupan. Tapi tanah yang dilupa, akan melahirkan kehilangan.”

Daftar Pustaka

[1] Wikipedia. (2024). Taman Wisata Alam Punti Kayu. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Wisata_Alam_Punti_Kayu

[2] Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan. (2023). Profil Taman Wisata Alam Punti Kayu. Palembang : BKSDA Sumsel.

[3] Radio Sumeks – Disway. (2023). Kenali Sejarah Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang. Diakses dari https://sumeksradio.disway.id/read/11568

[4] Indonesia Kaya. (2022). Punti Kayu, Hutan Wisata di Tengah Kota Palembang. Diakses dari https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/punti-kayu-hutan-wisata-di-tengah-kota/

[5] Perjalanan Detik. (2023). Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Surga Pinus di Sumatera Selatan. Diakses dari https://www.detik.com/sumbagsel/wisata/d-6765385

[6] Info Hotel Monoloog. (2024). Taman Wisata Alam Punti Kayu, Hutan Pinus di Tengah Kota Palembang.

[7] Universitas Sriwijaya. (2020). Efektivitas Pengusahaan Taman Wisata Alam Punti Kayu. Repositori UNSRI.

[8] Perjalanan.id. (2023). Taman Wisata Alam Punti Kayu – Wisata Edukasi dan Konservasi di Palembang.

[9] FISIP UNSRI. (2021). Analisis Pembangunan dan Manajemen Taman Wisata Alam Punti Kayu.

[10] Info-Target. (2025). Taman Wisata Alam Punti Kayu, Wisata Tertua di Kota Palembang.

No comments:

Post a Comment

SEMUANYA TENTANG ZELLA Cerpen Nadhifa Salsabila   Suara koper dengan roda empat itu terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer ber...