Showing posts with label Karya Nonfiksi 1447. Show all posts
Showing posts with label Karya Nonfiksi 1447. Show all posts

Monday, December 29, 2025

 ASMARA YANG TERHUKUM ZAMAN 

Oleh : Aufa Mafaza 


Masa penjajahan Jepang di Indonesia selalu diingat dengan cerita pahit: kerja paksa, jugun ianfu, dan teror yang merenggut kebebasan. Namun, di sela-sela bayang kelam itu, ada kisah yang lembut tapi tak kalah pedih. kisah cinta antara seorang gadis pribumi dan tentara Jepang. Cinta yang lahir bukan di taman damai melainkan di tanah penuh luka.

“Kenapa kamu membahasnya lagi?” tanya seorang sahabat dengan nada cemas.

“Aku tahu dia bagian dari mereka. Tapi, di hadapannya, aku hanya merasa menjadi manusia, bukan sekadar orang jajahan,” kata-kata gadis itu dengan suara bergetar, menabrak dinding antara perasaan pribadi dan tuntutan sejarah.

Malam-malam yang gelap menjadi saksi. Sang tentara berjalan pelan ke gubuk bambu di pinggir sawah, membawa sepotong roti kering – makanan mewah pada masa itu. Sang gadis menyalakan pelita sebagai tanda dia menunggu. Dalam hening, keduanya berbagi makanan dan cerita. Seakan-akan perang tak pernah ada.

Bagaimana cinta bisa bersemi di tanah yang penuh darah dan air mata? Apakah hati manusia bisa begitu buta atau begitu berani menantang garis takdir? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat siapa pun yang mendengarnya merenung: cinta ternyata tak pernah tunduk pada aturan bangsa, tapi selalu menuntut tempatnya sendiri.

“Cinta ini seperti embun di ujung daun,” ungkap sang gadis itu suatu kali. “Indah sesaat tapi bisa hilang seketika karena panas matahari.” Kalimat itu menyentuh, karena dia tahu kebersamaan mereka tak akan lama. Meski rapuh namun dia tetap memilih untuk menjaganya. Seakan-akan setiap detik adalah hadiah.

Orang tua di desa masih bercerita tentang Maesaroh, seorang perempuan yang dulu dikucilkan karena mencintai tentara Jepang. Dia meninggal tua dan kesepian tapi di kotak kecil yang ditinggalkannya, ditemukan secarik kertas bertuliskan huruf Jepang: “Aishiteru.” Entah itu janji, entah itu penyesalan – tapi jelas ada hati yang pernah bergetar di tengah perang.

Kini, bila kita menoleh ke belakang, apakah kisah cinta seperti ini hanya layak disebut dikhianati? Ataukah dia adalah bukti bahwa di tengah-tengah berpikir, manusia tetap mencari kasih? Mungkin penjelasannya tak pernah pasti, tapi satu hal yang jelas: cinta pada masa penjajahan adalah cinta yang mengharukan karena ia berani hidup di tengah badai.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gyo000223. 2025.  Surat dari Timur.  https://www.tiktok.com .  Di akses 29 Juli 2025

Parist.id. 2018.  Merasakan Getir Cinta dalam Suasana Perang .  https://www.parist.id . Diakses 11 Agustus 2025.

Sabbiruuuw. 2025.  Cinta di Tanah Jajahan.  https://www.tiktok.com . Diakses 29 Juli 2025.

Yovita Arika. 2018.  Ronggeng Kalawu,  Kisah Perjuangan Ronggeng di Masa Penjajahan Jepang.  Kompas.id. 2025.kompas.id  .​ Diakses 11 Agustus 2025.

Obat Rindu


Oleh : Diyah Ayu Puspitasari 

 

 

​ Obat rindu sebab kehilangan sesosok yang kita cintai.  Mulai dari kehilangan kehadirannya atau perhatian  atau  interaksi dengan seseorang yang kita anggap penting itu ,  bukan dengan menghapus ingatan melainkan merawat kenangan yang pernah ada.

​ “Aku rindu,” bisikku lirih.

   "Aku tahu, tapi...jangan biarkan rindumu itu jadi luka, tapi jadi do'a," kata temanku berjanji.

Nyatanya benar, obat rindu itu dengan kita mendo'akannya. Tetapi , dapat  juga dengan bertemu langsung atau dengan panggilan suara atau vid eo .

Tahukah kamu, lebih dari 70% orang yang pernah kehilangan, mengaku bahwa rasa rindu adalah emosi yang paling sulit mereka hadapi. Banyak juga orang-orang yang bertanya: adakah obat yang benar-benar mampu menyembuhkan rindu bagi hati yang kehilangan  seorang  tercinta yang sudah tiada?

Waktu adalah tabib segala luka. Begitu pula dengan rindu. Perlahan  dia akan mengajarkan hati menjadi kuat.

Pernah suatu malam aku duduk sendiri di atas kasur kamarku. Aku mengingat kejadian  empat  tahun yang lalu. Dimana seseorang yang kucintai pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Kubuka buku diaryku, di sana tulisannya terdapat tangan yang tidak karuan, namun masih dapat dibaca. Juga, terselip foto dirinya dengan tersenyum bahagia.  A walnya aku sedih,  namun  kini menjadi bahagia. Karena dari situ aku mulai menyadari, bahwa kenangan itu bisa menjadi obat, bukan hanya luka. Kemudian, saya teringat sebuah artikel yang pernah kubaca, jika kita mengenang kembali kenangan indah di masa lalu, maka dapat membantu meredakan rasa kesepian, mencegah depresi, hingga meningkatkan kesejahteraan hidup.

Ternyata kunci obat rindu itu bukan melupakannya, melainkan belajar menerima dan ikhlas, bahwa cinta tetap hidup meski sosoknya telah tiada. "Tapi... apakah kenangan manis tidak berubah menjadi luka saat diingat?" Maka, obat kerinduan adalah keberanian menatap masa depan tanpa melepas masa lalu.

 

​

Daftar Pustaka

 

Halo Sehat. 2024 “7 Cara Menghilangkan Rasa Kangen Yang Sangat Mendalam” https://hellosehat.com. 15 September 2025 .

Imelda Rahmawati .  2023 “5 Cara Mengobati Rindu Biar Terobati, Mudah Kok!”. yo o na.id.. Diakses 1 5  September 2025 .

 

TANAH PAK HAJI DAN TAMAN WISATA ALAM PUNTI KAYU: 

NAPAS HIJAU KOTA PALEMBANG


Oleh : Muhammad Bardan


Di tengah Kota Palembang, di kawasan Kambang Iwak menuju Alang-alang Lebar, terbentang sebuah kawasan hijau yang masih lestari: Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu. Kawasan ini merupakan satu-satunya hutan pinus alami yang berada di wilayah perkotaan Palembang dan telah lama menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan [1].

Secara historis, kawasan ini telah ditetapkan sebagai hutan lindung sejak tahun 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda, dan kemudian pada tanggal 23 Juli 1985, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 88/Kpts-II/1985, statusnya menjadi Taman Wisata Alam (TWA) [2]. Dengan luas sekitar 50 hektar, kawasan ini menjadi paru-paru kota yang sangat penting bagi ekosistem Palembang.

Di masa lalu, warga sekitar mengenal bagian tepi hutan ini sebagai “Tanah Pak Haji”, merujuk pada seorang tokoh lokal yang sering mengingatkan warga untuk menjaga pepohonan di sekitar wilayah itu. Meski sosok ini tidak tercatat dalam dokumen resmi, kisah lisan tentangnya masih hidup dalam ingatan masyarakat sekitar Sako dan Kemuning. Beliau dikenal sebagai penjaga moral lingkungan – mengajarkan agar tanah dan hutan diperlakukan sebagai amanah, bukan milik pribadi semata.

Dengan semangat itu, masyarakat sekitar ikut berperan menjaga kebersihan dan kelestarian hutan, hingga akhirnya kawasan tersebut menjadi cikal bakal Taman Wisata Alam Punti Kayu yang dikenal sekarang [3].

Kini, TWA Punti Kayu berada di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan. Selain menjadi kawasan konservasi, taman ini juga berfungsi sebagai objek wisata edukatif dan rekreasi keluarga [4].

Di dalam taman terdapat beragam flora dan fauna, mulai dari pohon  pinus merkusii , hingga satwa-satwa seperti rusa timor, kera ekor panjang, burung elang, buaya, dan gajah Sumatera yang dikelola di area kebun binatang mini [5]. Fasilitas pendukungnya juga terus berkembang, seperti area piknik, wahana permainan air, jembatan gantung, hingga spot foto alami yang menarik pengunjung dari berbagai daerah [6].

Selain fungsi ekologis, taman ini memiliki nilai sosial dan ekonomi. Banyak warga sekitar menggantungkan hidupnya dari aktivitas wisata ini, seperti menjadi penjaga, pedagang makanan, penyedia jasa sewa kuda, dan pemandu wisata. Dengan demikian, Punti Kayu bukan hanya ruang hijau, tapi juga sumber kehidupan masyarakat lokal.

Namun, keinginan taman ini tidak lepas dari tantangan. Aktivitas manusia, jumlah pengunjung, serta ancaman kebakaran pada musim kemarau kerap menjadi masalah yang harus dihadapi. Oleh karena itu, pihak pemerintah bersama pemerintah terus melakukan rehabilitasi lahan, patroli kebersihan, dan penyuluhan lingkungan bagi pengunjung [7].

Kesadaran masyarakat pun menjadi kunci utama. Mengingat TWA Punti Kayu berperan penting dalam menyerap karbon dan menjaga iklim mikro kota Palembang, menjaga kelestariannya berarti menjaga kesehatan kota itu sendiri [8].

Dengan meningkatnya pembangunan kota, terutama di wilayah barat Palembang, ruang terbuka hijau semakin terbatas. Maka dari itu, TWA Punti Kayu harus menjadi model pengelolaan hutan kota berkelanjutan, tempat di mana konservasi dan wisata bisa berjalan berdampingan [9].

Konsep  ekowisata  yang menekankan edukasi lingkungan perlu terus dikembangkan. Misalnya, setiap pengunjung diberi edukasi interaktif melalui  QR code  di setiap jenis pohon, atau program adopsi pohon untuk sekolah-sekolah di Palembang. Dengan pendekatan seperti ini, generasi muda bisa lebih memahami nilai ekologis kawasan tersebut.

Selain itu, pemerintah kota dan sejarawan dari Universitas Sriwijaya telah melakukan kajian bahwa Punti Kayu dapat dijadikan laboratorium ekowisata yang menghubungkan penelitian kampus dengan kegiatan konservasi lapangan [10]. Upaya ini juga dapat membuka peluang ekonomi baru melalui wisata hijau yang tetap menjaga fungsi lingkungan.

Semangat “Tanah Pak Haji” bisa dimaknai kembali di masa depan sebagai falsafah moral masyarakat Palembang: bahwa kemajuan tidak bisa menyingkirkan alam, dan tanah yang subur harus menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.

Jika masyarakat tetap menjaga komitmen itu, maka TWA Punti Kayu bukan sekadar taman wisata, melainkan simbol kesadaran ekologis Palembang yang hidup – dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan.

Kisah “Tanah Pak Haji” dan Taman Wisata Alam Punti Kayu adalah cerminan hubungan manusia dan alam di tengah dinamika zaman. Dari sejarah kolonial hingga era modern, taman ini menjadi bukti nyata bahwa keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan masih mungkin terjaga.

Punti Kayu bukan sekadar tempat berlibur, tetapi ruang hidup yang mengajarkan arti bersyukur dan tanggung jawab terhadap bumi.
Mirip dengan kata bijak yang sering diingat warga tua di sekitar taman:
“Tanah yang dijaga dengan iman, akan menumbuhkan kehidupan. Tapi tanah yang dilupa, akan melahirkan kehilangan.”

Daftar Pustaka

[1] Wikipedia. (2024). Taman Wisata Alam Punti Kayu. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Wisata_Alam_Punti_Kayu

[2] Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan. (2023). Profil Taman Wisata Alam Punti Kayu. Palembang : BKSDA Sumsel.

[3] Radio Sumeks – Disway. (2023). Kenali Sejarah Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang. Diakses dari https://sumeksradio.disway.id/read/11568

[4] Indonesia Kaya. (2022). Punti Kayu, Hutan Wisata di Tengah Kota Palembang. Diakses dari https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/punti-kayu-hutan-wisata-di-tengah-kota/

[5] Perjalanan Detik. (2023). Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Surga Pinus di Sumatera Selatan. Diakses dari https://www.detik.com/sumbagsel/wisata/d-6765385

[6] Info Hotel Monoloog. (2024). Taman Wisata Alam Punti Kayu, Hutan Pinus di Tengah Kota Palembang.

[7] Universitas Sriwijaya. (2020). Efektivitas Pengusahaan Taman Wisata Alam Punti Kayu. Repositori UNSRI.

[8] Perjalanan.id. (2023). Taman Wisata Alam Punti Kayu – Wisata Edukasi dan Konservasi di Palembang.

[9] FISIP UNSRI. (2021). Analisis Pembangunan dan Manajemen Taman Wisata Alam Punti Kayu.

[10] Info-Target. (2025). Taman Wisata Alam Punti Kayu, Wisata Tertua di Kota Palembang.

MENJAGA ALAM, MENJAGA MASA DEPAN


Oleh : Ghaliz Syida Zihni

 

Alam telah memberikan banyak keuntungan bagi manusia, mulai dari kebutuhan dasar hingga kelangsungan hidup. Hutan yang hijau dan lebat menyediakan oksigen yang kita hirup setiap hari. Sungai-sungai yang mengalir jerrich memberikan air bersih yang kita butuhkan untuk minum, mandi, dan mencuci. Bumi yang subur memberikan kita makanan yang melimpah. Namun, kenyataan lingkungan kita sekarang sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, banyak masyarakat yang tidak peduli dengan Kelestarian alam. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil wawancara kami bersama masyarakat.

“Apa pendapat kalian tentang hutan yang makin gundul?” tanya salah satu anggota kami.

“Gak masalah, yang penting gak ngaruh ke aku, “jawab remaja yang berambut keriting, bernama Anton.

“Iya, gak penting penting banget sih.” Tambah teman sebelahnya.

“Bagaimana kalian berpikir tentang masa depan lingkungan?”

“Nggak kepikiran, masih lama.”

“Teknologi yang atasi, kita gak perlu mikirin.”

“Pesan apa yang kamu ingin sampaikan?”

“Lakukan apa yang kamu mau. Jangan tertalu serius, hidup santai aja.” Ucap Anton tanpa ragu.

Nyata benar ketidakpedulian mereka terhadap lingkungan, dapat mencerminkan begitu banyak manusia yang masih mementingkan keuntungan pribadi yang sesaat. Mereka menebangi hutan secara liar, mencemari sungai, dan mengotori laut. Mereka tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka, yang penting mereka mendapatkan keuntungan sesaat.

Sebaliknya, disamping ketidakpedulian mereka ada juga orang-orang yang peduli seperti penulis-penulis yang terinspirasi untuk berkarya tentang alam, salah satunya. “ Silent Spring” oleh Rachel Carson diterbitkan pada tahun 1962. Silent Spring dianggap sebagai salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah gerakan lingkungan hidup. Dan ada satu hal lagi yang lebih mengejutkan tentang alam, yaitu… Peran Naticre of science (NOS) dalam pengembangan Literasi sains. Abdict El-Khalick mengarisbawahi bahwa pemahaman Nos bukan sekadar pengetahuan tentang metode ilmiah, melainkan mencakup dimensi yang lebih luas tentang bagaimana aktivitas ilmiah bertangsung sebagai upaya manusia untuk memahami fenomena alam (Abd El-Khalick. F., 2013).

Seperti peribahasa yang mengatakan, “Sambil menyelam, sambil minum air. Artinya, kita harus bisa memanfaatkan alam dengan bijak dan menjaga kelestariannya. Dengan demikian, kita dapat menikmati hasilnya secara berkelanjutan.

Saya teringat akan kisah kecil tentang seorang anak yang menanam pohon. Setelah beberapa tahun, pohon ite tumbuh besar dan memberikan naungan bagi anak-anak lain yang bermain di sekitarnya. Anak itu senang melihat hasilnya dan terus menanam pohon-pohon lainya.

Pertanyaan untuk kita semua, apa yang akan kita lakukan untuk menjaga alam? Apakah kita akan terus merusaknya atau mulai menjaga dan melindunginya? Mari kita berpikir dan bertindak untuk masa depan kita sendiri. Jika bukan kita siapa lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Marsyella, 2004 .Id. 2024. “10 Buku Tengtang Alam Yang Akan Mengubah Cara Anda Melihat Dunia”. ruangbuku.id. Diakses 15 Septemper 2025.

Sri Astutik Handayani. 2025. ”Peran Nature of Science (NOC) Dalam Perkembangan Litesi Sains”. Congnitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Diakses 15 september 2025.

SEMUANYA TENTANG ZELLA Cerpen Nadhifa Salsabila   Suara koper dengan roda empat itu terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer ber...