Showing posts with label Cerpen 1446. Show all posts
Showing posts with label Cerpen 1446. Show all posts

Monday, December 29, 2025

SEMUANYA TENTANG ZELLA

Cerpen Nadhifa Salsabila

 

Suara koper dengan roda empat itu terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer berwarna marun, pemilik koper itu mendorong mulus kopernya memasuki sebuah rumah minimalis namun memancarkan kesan elegan.

“Ini Zella…mulai hari ini dia akan tinggal di sini,” tutur seorang wanita paruh baya yang mengumumkan kedatangan Zella di hadapan keluarga kecilnya, yang tidak lain merupakan bibinya Zella.

“Zella, ini Tania,” tambah wanita itu sembari berjalan ke arah anak sulungnya.

Setelah perkenalan singkat terebut, Zella memasuki kamar barunya yang terletak di lantai dua rumah itu. Mata Zella berkeliling mengamati kamar kecil itu. Semenjak orang tuanya telah tiada, dunia Zella gelap seakan-akan cahaya seketika redup dalam hidupnya. Tidak ada lagi rasa aman, nyaman, dan terlindungi yang ia rasakan. Zella mengusap wajahnya pelan lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur berseprai merah muda di sana. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap dan perlahan mulai terlelap.

***

 

Entah sudah keberapa kalinya Zella melirik arloji di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 16.00 WIB, ia masih setia menunggu Tania yang berada di ruang OSIS sembari membaca buku di bangku koridor, di samping ruang OSIS.

“Rapat OSIS masih satu jam lagi,” ucap seorang laki-laki menyuguhkan sebotol air mineral pada Zella, Zella mendongak mendapati Alendra-teman sekelasnya  berdiri tepat di hadapannya.

“Terimakasih,” tutur Zella menerima sebotol air mineral tersebut.

Alendra mengangguk singkat lalu duduk di samping Zella.

“Kamu… sepupunya Tania ‘kan?” tanya Alendra membuka obrolan setelah keheningan beberapa saat.

“Iya,” jawab Zella singkat yang masih canggung.

Alendra merasakan atmosfer kecanggungan di sekitar mereka, setelah menarik napas singkat lalu menghembuskannya Alendra mulai menanyakan lagi pertanyaan-pertanyaan kecil pada Zella, bahkan sesekali mereka tertawa bersama. Dalam waktu singkat mereka mulai menjadi teman dekat. Si friendly Alendra memang tidak pernah kalah, dalam menambah daftar satu nama teman dekat baru lagi dalam bukunya.

***

 

Seusai sekolah, Zella dan kelompok belajarnya sedang mendiskusikan materi-materi akuntansi yang diberikan oleh pembimbing mereka, di ruang khusus yang disediakan sekolah untuk mereka.

Ting

Sebuah notif singkat masuk di layar ponsel Zella, di dalam ransel putih miliknya.

Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari akan notif tersebut.

Kringg….

Kembali terdengar nada dering dari ponsel yang sama, Zella menoleh, mengalihkan pandangannya dari buku-buku di hadapannya ke arah ranselnya yang berjarak beberapa kursi dari dirinya, ia menoleh menatap keempat temannya itu secara bergantian yang fokus mereka juga teralihkan akibat nada dering itu.

“Angkat saja,” ucap Gamin mewakili.

Zella mengangguk, lalu bangkit dari kursinya dan segera mengambil ponsel yang terus berdering dari dalam ranselnya, ia berjalan beberapa langkah ke arah jendela di sana, ia membuka layar ponselnya dan mendapati nama ‘Tania’ muncul di sana. Kemudian segera mengangkat panggilan tersebut.

“Zel, kalo sudah selesai belajarnya cepet ke lapangan deket rumah,” pinta Tania antusias.

“Kamu sudah pulang sekolah?” tebak Zella mendengar suara skateboard tak jauh dari Tania.

“Eskul baletnya selesai lebih awal 30 menit, cepet datang jangan lama-lama!”

“Zel di sini berisik, nanti  kita bicara lagi aku tutup dulu,” ucap Tania setengah berteriak untuk menandingi suara ricuhnya skateboard.

Tit….

Panggilan terputus, Zella menatap jam di layar ponselnya sebelum mematikannya.

“Temen-temen aku pulang dulu ya, sudah sore,” pamit Zella pada anggota kelompok belajarnya yang masih fokus berkutat dengan buku dan pena mereka.

Setelah mendapat persetujuan dari mereka, Zella segera meraih ranselnya dan melangkah pergi dari ruangan itu.

***

 

 Zella diam, tak bergeming menatap lapangan di hadapannya itu kosong, tidak ada seorang pun di sana, kemudian ia mengambil ponselnya dari balik jas sekolahnya, mencari nama Tania di aplikasi berwarna hijau tersebut. Tidak butuh waktu lama ia segera menekan tombol panggilan yang terletak di bagian kanan pojok atas.

“Kamu dimana?” tanya Tania cepat setelah sambungan telepon terhubung.

Zella mengerutkan keningnya atas pertanyaan dari Tania yang seharusnya justru ia tanyakan.

“Aku sudah di lapangan,” ungkap Zella ragu setelah diam sejenak.

Terdengar suara helaan nafas Tania dari ujung telepon.

“Sudahlah kita bertemu di rumah saja.” finish Tania yang segera mematikan panggilan teleponnya secara sepihak untuk yang kedua kalinya, bahkan Zella yang sudah membuka mulutnya pun tidak sempat mengeluarkan sepatah kata pun.

Rrrkkk...

Zella menunduk, melihat benda apa yang menyentuh kakinya pelan.

“Maaf,” ucap seorang laki-laki yang berlari kecil ke arah Zella, lalu segera mengambil benda berbentuk papan lonjong dengan ujung melengkung itu.

“Aku… baru memulai belajar skateboard, belum terlalu bisa.” tutur laki-laki itu tersenyum kecil sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Oh ya, aku Lian,” laki-laki itu memperkenalkan diri.

“Zella.” balas Zella kecil.

“Mau mencoba?” tawar Lian melirik skateboard yang dipegangnya, setelah berpikir sejenak akhirnya Zella mengangguk menyetujui.

***

 

Hari demi hari sirih berganti dengan cepat, begitu pula dengan kedekatan antara Zella dan Alendra di sekolah dan dengan Lian di luar sekolah. Selain anggota kelompok belajarnya dan Tania, kedua laki-laki tersebut adalah teman dekatnya Zella.

Tania berjalan perlahan memasuki ruang kelompok belajar, seperti yang ia harapkan Zella ada di sana, sedang fokus membolak-balik halaman pada buku cetak tebal di hadapannya.

“Zel, 10 menit lagi aku tampil,” ucap Tania yang berada beberapa langkah dari tempat Zella.

Zella menoleh mendapati Tania dengan seragam baletnya yang lengkap.

“Sebentar lagi aku ke sana.”

“Zel, gue gugup.”

“Semangat!!, kamu pasti bisa.” ucap Zella menyemangati, mencoba menghilangkan rasa gugup Tania.

“Kamu juga semangat cerdas cermatnya, bantai habis tim lain jangan kasih kesempatan.” balas Tania antusias.

Hari ini SMA Yusung mengadakan pentas seni sebagai akhir perjalanan dari semester satu. Sebagian siswa ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut, dan sebagian yang lain menjadi panitia dalam memastikan acara tersebut berlangsung tanpa kendala.

Setelah membereskan buku-bukunya di atas meja, Zella segera bergegas ke luar ruangan mengejar waktu agar ia bisa duduk di kursi penonton sebelum Tania tampil, tetapi saat ia berada tepat di depan pintu itu, ia menemukan sebuah tali yang terbuat dari kain berwarna peach di sana, Zella menyadari tali tersebut merupakan salah satu aksesoris dari sanggul rambut milik Tania. Terdengar suara MC yang sudah memanggil nama Tania untuk tampil di atas panggung, Zella bergegas, menuju aula sebelum Tania benar-benar tampil.

Zella terengah-engah, mengatur nafasnya yang masih belum stabil, sekarang ia sudah berada di samping panggung utama tetapi ia terlambat, Tania sudah tampil dengan sorot lampu putih yang hanya meneranginya, ruangan itu gelap semua mata hanya berfokus pada penampilan Tania.

Zella berbalik ingin menuju tempat duduk penonton, tetapi ia segera berhenti, telinganya menangkap suara yang risih didengarnya, ia cepat berbalik menoleh ke arah asal sumber suara. Mata Zella menangkap sebuah lampu gantung kristal berukuran besar berada tepat di atas kepala Tania, chandelier itu terus bergoyang pelan, terlihat penyangganya sudah setengah rapuh. Tanpa berlama-lama lagi Zella mulai berlari ke arah Tania ingin mengeluarkannya dari panggung itu dari chandelier yang sepersekian detik itu akan segera runtuh dalam sekejap.

***

 

Zella membua matanya perlahan, bau khas obat segera menyergap hidungnya di kala itu, matanya berkeliling menjelajahi ruangan yang sepi itu. Hanya bunyi ‘bip’ dari monitor yang terdengar.

Ceklekk….

Pintu ruangan itu terbuka, seseorang masuk ke sana.

“Sudah Sadar?” tanya Haruna, satu-satunya teman perempuan Zella dari kelompok belajar yang terkenal dengan sifat cuek dan tak berperasaannya.

Tidak lama setelah itu terlihat sosok Gamin yang juga ikut memasuki ruangan itu dengan sekantong plastik putih di tangannya.

“Kenapa aku bisa di sini?” tanya Zella kecil pada kedua temannya itu.

“Gak perlu diinget lagi, kamu udah gak sadar selama tiga hari,” oceh Gamin.  

“Aku bawain bubur instan, makan dulu.” lanjut Gamin sembari mengambil termos di atas nakas.

Saat hendak menuang air panas ke dalam mangkok bubur, tanpa sengaja Gamin menumpahkan air panas tersebut ke kaki Zella, Gamin yang menyadari hal itu segera panik dan pergi mengambil handuk kecil juga sebaskom air dingin. Zella diam termengu menatap kakinya yang sudah memerah. Setelah Gamin kembali ia segera mengompres kaki Zella, dan mengoles tipis salep antinyeri. Zella menoleh ke samping, menatap Haruna yang hanya berdiri dalam diam dengan mata yang terkunci pada kaki Zella.

“Aku baik-baik saja,” tutur Zella tak ingin membuat Haruna khawatir.

“Gak ngerasain sakit apapun kan?” tanya Haruna menatap mata Zella.

“Kata dokter kamu lumpuh sementara, akibat otot kaki kamu yang kaget.”

Zella menelan salivanya kasar, sementara Gamin reflek menghentikan aktivitasnya.

“Gak perlu panik, kan hanya sementara.” tutur Haruna santai menatap Zella dan Gamin secara bergantian.

***

 

Sudah kesekian kalinya Haruna menekan tombol panggilan di layar ponsel Zella. Tentu saja atas kehendak si pemilik ponsel, tetapi yang terdengar hanyalah suara operator dari seberang telepon.

“Panggilannya gak diangkat bukan gak aktif,” ucap Haruna frustasi.

“Coba sekali lagi, terakhir,” pinta Zella memelas.

“Ini yang terakhir,” tekan Haruna pada kalimatnya, lalu segera memulai panggilan telepon kembali, tidak lama kemudian akhirnya panggilan tersebut tersambung.

“Lian….” Panggil Zella cepat.

“Maaf  Zel aku gak punya waktu, aku lagi jagain Tania sekarang,” ucap Lian lalu segera mengakhiri panggilan tersebut.

“Siapa?” tanya Haruna.

“Orang yang ngajarin aku main skateboard sekaligus tetangga samping rumah.”

“Yaudah, sekarang kamu istirahat dulu, nanti aku coba telepon Alendra dia pasti punya waktu buat kamu,” seru Haruna lembut.

***

 

Setelah beristirahat cukup panjang Zella kembali membuka matanya, langit biru di luar sudah berubah menjadi gelap. Zella melihat Haruna yang keluar dari ruangan.

“Ale…,” panggil Haruna ketika melihat Alendra berjalan melewati koridor rumah sakit.

“Zella di dalam, kamu pasti mau jenguk dia ‘kan?” harap Haruna.

“Na, aku sekarang lagi jagain Tania yang masih sakit.” potong Alendra cepat.

“Kalian teman dekat,” ucap Haruna mengingatkan.

“Na…aku gak serius kok untuk deket sama dia, itu karena Zella sepupu Tania aja,” finish Alendra tegas lalu segera melangkah memasuki lift.

Zella mengalihkan pandangannya dari pintu menuju jendela, perlahan air matanya mulai turun membasahi pipinya. Ia tidak pernah menyimpan rasa benci terhadap Tania, tapi kenapa semuanya harus tentang Tania. Pikiran Zella kembali melayang pada kejadian beberapa bulan silam.

***

 

Zella mengusap matanya pelan, rasa kantuk kian menghampirinya, ia bangkit dari meja belajarnya ingin membuat secangkir coklat panas untuk menemaninya belajar.

“Sepertinya sudah saatnya kita berhenti merawat Zella, merawat seorang anak gadis lagi tidaklah mudah dengan biayanya yang besar.”

Langkah Zella terhenti di depan kamar paman dan bibinya mendengar namanya disebut.

“Kita gak akan rugi, dia biasanya yang membersihkan rumah, mengajari kayla belajar, dan membantu Tania.” sela bibi Aira tak setuju.

“Kita gak bisa terus-terusan memanfaatkan anak itu,” protes Paman Ken.

“Bukan memanfaatkan, tapi seperti itulah yang harus ia lakukan kepada keluarga kita.”

Zella mundur beberapa langkah, berbalik lalu kembali ke kamarnya.

***

 

“Inget, hanya 10 menit,” ucap Haruna yang mendorong kursi roda Zella menuju taman rumah sakit.

“Gak ada bonus tambahan, ini sudah akhir tahun loh.”

“Zella…aku gak lagi jualan, jadi gak ada yang namanya tawar-menawar.” tolak Haruna.

Zella terkekeh pelan atas pertahanan Haruna yang benar-benar tidak bisa diubah pemikirannya, dia memang benar-benar ber-MBTI-T. Zella menghirup udara segar kala sore itu dan mengamati taman rumah sakit yang tidak terlalu ramai itu.

“Zel, hari ini kita tunda dulu ya cari anginnya, aku lupa ada janji sama anak-anak study group,” ucap Haruna sembari memutar balik kursi roda Zella cepat.

Zella memegang tangan Haruna di pegangan kursi rodanya, kemudian mendongak ke belakang untuk menatapnya.

“Gak perlu bohong, aku udah lihat mereka,” sela Zella melirik ke arah Tania, Alendra, Lian, dan kedua paman-bibinya yang sedang bersenang-senang.

“Na....” panggil Zella serak.

“Zel, kamu jangan….“

“Memang dari awal, semuanya gak pernah tentang aku kan?” finish Zella sendu, lalu pergi mendorong kursi rodanya sendiri.

Haruna ingin mengejar, tetapi ia segera mengurungkan niatnya. Ia tahu untuk sekarang Zella perlu waktu sendiri.

“Semuanya tentang kamu Zel…jika bersama orang yang tepat,” lirih Haruna setelah membaca notif yang bertengger di layar ponselnya.

 

Sukajadi, 20 April 2025


 

BAYANGAN TERAKHIR

Cerpen Nadia Ma’rufah

 

Hujan mengguyur kota dengan deras, membasahi jalanan yang sepi di tengah malam. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi gedung-gedung tua yang sudah penuh coretan. Di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota, seorang pria bertubuh kekar tengah duduk di kursi kayu dengan tangan terikat ke belakang. Wajahnya penuh luka lebam, darah mengering di sudut bibirnya. Dua pria bersenjata berdiri di sampingnya, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan dingin. Di depan mereka, seorang lelaki berjas hitam berdiri dengan ekspresi penuh kepuasan. Dia adalah Vicenzo Cassano bos mafia yang menguasai separuh kota int.

“Jadi kau pikir bisa mengkhianatiku, huh?” suaranya dingin seperti belati yang menusuk. Pria yang terikat itu, Carlie De Hazel, tersenyum meskipun bibimya berdarah.

“Kau tahu aku tidak pernah bekeŞa setengah-setengah, Vicenzo,” jawabnya lirih

“Kalau aku ingin mengkhianatimu, aku sudah melakukannya sejak lama.”

Vicenzo tertawa kecil, lalu menunduk mendekati Carlie, “Kau membunuh Giovanni, tangan kananku. Kau pikir aku akan membiarkan itu begitu saja?”

Carlie menelan ludah. Dia memang telah membunuh Giovanni, tapi bukan karena pengkhianatan, itu adalah jebakan yang dibuat seseorang dari dalam organisasi Vicenzo sendiri. Sayangnya, tidak ada yang pereaya pada kata-kata seorang pria yang sudah dianggap musuh. Vicenzo memberi isyarat pada anak buahnya. Salah satu dari mereka menghantamkan popor senjata ke perut Carlie, membuatnya terbatuk dan memuntahkan darah.

“Berikan aku alasan untuk tidak membunuhmu sekarang,” kata Vicenzo menarik pistol dari balik jasnya.

Carlie mengangkat kepalanya perlahan menatap mata Franco, “Karena ada sesuatu yang lebih besar dari ini semua,” katanya. “Kau tahu siapa yang benar-benar mengkhianatimu?”

Vicenzo menyipitkan matanya “Jangan buang waktuku, Carlie.”

Carlie menarik napas panjang sebelum berkata, “Paolo.”

Hening. Orang-orang di dalam gudang itu saling berpandangan. Paolo Ricci adalah orang kepercayaan Vicenzo. Tidak mungkin dia berkhianat. Vicenzo tertawa tapi ada keiaguan dalam tatapannya.

“Kau berbohong,” ujar Vicenzo tidak pereaya. Carlie menggeleng.

“Coba pikirkan. Siapa yang pertama kali mengatakan bahwa akulah pengkhianatnya? Siapa yang memancing Giovanni ke perangkap itu? Dan siapa yang selalu ada di sisimu, tapi justru ingin kau ati agar bisa mengambil alih kekuasaan?”

Vicenzo mulai terlihat ragu. Dia mulai melirik salah satu anak buahnya, memberi isyarat agar mereka menyelidikinya Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar. Gudang mendadak gempar. Vicenzo dan anak buahnya berhamburan mencari perlindungan. Carlie menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan kursinya ke samping, berusaha melepaskan ikatan tangannya. Pintu gudang terbuka. Seorang pria beıjas abu-abu berdiri di ambang pintu, memegang senapan serbu. Matanya dingin seperti es. Paolo Ricci.

“Sia1,” gumam Vicenzo.

Paolo tidak membuang waktu. Dia menembak dua anak buah Vicenzo dalam satu tarikan napas. Peluru bersarang di kepala mereka sebelum mereka sempat menarik pelatuknya Carlie berhasil membebaskan dirinya dan segera berlindung di balik peti kayu. Vicenzo mengangkat pistolnya, tapi Paolo lebih cepat. Dia menembak dada Vicenzo, membuat bos mafia itu terhuyung ke belakang, darah segar mengalir di jas mahalnya. Paolo melangkah mendekat, menodongkan senjatanya ke kepala Vicenzo yang jatuh terduduk.

“Aku sudah sangat bosan menunggumu mati dengan cara alami, Vicenzo,” katanya sambil tersenyum dingin.

Carlie merayap ke sisi lain gudang, mengambil pistol dari salah satu anak buah Vicenzo. Dia mengangkat senjatanya, mengarahkan ke Paolo.

“Permainan selesai, Ricci.”

Paolo menoleh, mendapati Carlie berdiri dengan pistol siap menembak. “Kau masih hidup rupanya.” katanya sinis.

Carlie tersenyurn miring.

“Aku memang berencana mati malam ini, tapi bukan di tangan bajingan sepertimu,” Paolo tertawa kecil.

“Kalau begitu, ayo kita akhiri ini.”

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang sebelum Carlie sempat bereaksi, Vicenzo yang sekarat mengangkat pistolnya dan menarik pelatuk. Peluru melesat, tepat mengenai dada Paolo. Paolo terhuyung matanya terbelalak tidak percaya. Dia mencoba menembak Carlie, tapi tangannya gemetar. Dalam sekejap, Carlie melepaskan dua tembakan ke kepala Paolo, dan mengakhiri segalanya.

Gudang menjadi sunyi. Carlie menoleh ke arah Vicenzo yang tersandar di dinding, darah mengalir deras di dadanya. Vicenzo tertawa lirih.

“Setidaknya aku tidak mati di tangan pengkhianat,” gumamnya. Carlie mendekat, berjongkok di samping Vicenzo.

“Aku bisa menyelamatkanmu,” Vicenzo menggeleng lemah.

“Tidak perlu,” katanya lalu menyerahkan sesuatu ke tangan Carlie. Sebuah kunci.

Carlie mengernyit, “Apa ini?”

Vicenzo tersenyum samar, “Kunci sebuah rekening yang berisi seluruh uangku.. .dan identitas baru untukmu. Mulailah hidup baru, Carlie.”

Napas Vicenzo mulai melambat. Dalam beberapa detik, dia menghembuskan napas terakhirnya. Carlie menatap kunci itu lama, sebelum akhirnya berdiri dan melangkah keluar gudang. Hujan masih turun deras. Tanpa menoleh ke belakang. Carlie berjalan menuju kegelapan malam dan meninggalkan kehidupan lamanya. Namun, di dalam benaknya, dia tahu... dunia bayangan tidak pernah benar-benar melepaskannya.

 

HARAPAN YANG TERLIPAT

Cerpen Meyga Diyetri

  

Di atas meja yang dipenuhi tumpukan kertas berwana-wami dengan motif, bahkan ada beberapa yang polos, dua saudara kembar duduk berhadapan. Kedua tangan kecil mereka saling berpadu, melipat-lipat kertas dengan penuh kehatihatian membentuk angsa dari kertas tersebut. Dalam diamnya, tumpukan kertas dihadapan mereka telah berubah menjadi angsa.

Zara dan Zila, dua gadis yang selalu bersama. Sejak kecil, mereka tidak pernah terpisahkan. Mereka bermain, belajar, dan bahkan tidur di dekatnya. Langit-langit kamar mereka dipenuhi angsa lipat yang bergantungan di sana, seolah-olah angsa-angsa itu ada di sekitar mereka.

Setiap malam, sebelum tidur, Zara dan Zila akan berbaring di tempat tidur mereka dan berbicara tentang masa depan, sambil menatap angsa-angsa yang bergantungan di atas mereka, yang menjadi simbol dan harapan dari mimpi mereka yang tak terpisahkan. Mereka bercita-cita untuk tetap tinggal bersama nenek mereka, yang dikenal sebagai penyembuh herbal dan menjalani hidup sederhana di desa ini.

Suatu hari, Zila mulai merasa tidak enak badan. Hanya kelelahan biasa, tetapi semakin lama dia merasa tubuhnya semakin lemah. Zara yang sangat khawatir akhirnya m emanggil nenek mereka untuk memeriksa Zila. Dengan telaten nenek memberikan illa ramuan-ramuan herbal yang ia miliki.

Hari demi hari bergulir berganti, dengan keadaan Zila yang semakin melemah. Meskipun nenek berusaha menyembuhkan Zila dengan tanaman herbal dan doa-doa, tubuh Zila tidak juga menunjukkan adanya pemulihan. Zara merasa hancur mengetahui kondisi saudara kembamya yang tak kunjung sembuh. Setiap malam. Zara melipat kertas angsa untuk bella dan menaruhnya di atas rak di samping tempat tidur Zila.

“Ra, aku takut kita tidak akan bisa terbang lagi seperti dulu,” ungkap Zila lemah.

Zara memegang tangan Zila dengan erat. “Jangan terlalu banyak berpikir, percaya pada kemampuan nenek dan kita akan selalu Bersama,” ucap Zara berusaha meyakinkan Zila bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Zila tersenyum tipis, namun senyuman itu seolah tak bisa menutupi rasa sakit yang semakin parah, dan Zara menyadari akan hal itu.

Setelah Zila sudah tertidur lelap, Zara menghampiri sang nenek di kamamya yang sedang berkutat dengan beberapa tanaman herbal di hadapannya.

“Nenek, masih ada harapan untuk Zila?” tanya Zara berharap.

“Nenek harap juga begitu,” ucap nenek menghela napas panjang.

“Nenek tidak boleh ragu,” khawatir Zara melihat raut wajah neneknya yang sudah pasrah. Nenek mengangguk pelan dan tersenyum kecil.

“Tidak perlu khawatir,” pesan nenek meyakinkan Zara.

hari Sepanjang Zara selalu berada di sisi pembaringan Zila, untuk merawat dan menemaninya, bahkan terkadang ia lupa akan dirinya sendiri.

“Zara sudah larut, sebaiknya kamu segera beristirahat,” tegur nenek lembut. Zara menenangkan kepalanya dengan cepat.

“Aku masih mau menemani Zila di sini, Nek,” ungkap Zara.

“Tapi kamu juga butuh'istirahat yang teratur,” ucap nenek khawatir.

“Baiklah, aku akan istirahat sekarang,” ucap Zara mengalah, sebelum dia ke luar dari ruangan itu, dia menatap Zila sekîlas lalu segera pergi ke kamar tidurnya.

***

 

Sudah lima hari ini Zara merasakan batuk yang terasa sangat sakit, dan kepalanya yang cukup sering terasa seperti berputar-putar. Tetapi ia selalu menepis pikirannya yang tidak-tidak.

“Zara!” panggil Zila antusias yang melihat Zara memijit pangkal hidungnya.

“Kamu kenapa meninggalkan tempat tidurmu?” tanya Zara khawatir dan segera menghampiri Zila yang berdiri di bibir pintu, lalu menuntunnya masuk untuk duduk.

“Badanku sudah sehat, tidak sakit lagi tadi nenek memberiku obat yang baru beliau pelajari.”

“Tetap saja belum pulih sepenuhnya bukan? Harus banyak beristirahat,” protes Zara.

“Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kamu memijat pangkal hidungmu”

“Hanya pusing sedikit, tidak akan parah sepertimu ‘kan?” singgung Zara mencoba untuk tidak membuat Zila khawatir.

Zila hanya memutar kedua matanya malas, sedangkan Zara terkekeh pelan.

Lama-kelamaan Zara mengalami gejala yang memburuk seperti sesak napas, letih, dan pandangan yang kabur. Tetapi lagi dan lagi dia hanya menepis pikiran buruk tentangnya, dan hanya meminum obat herbal biasa saja.

“Sudah lama kita tidak seperti ini lagi,” seru Zila pada Zara yang duduk di seberangnya dengan tangan yang masih fokus melipat angsa kertas.

“Buuuk ….”

Zila menoleh, mendengar suara yang cukup menarik perhatiannya. Matanya membulat sempuma ketika mendapati Zara yang pingsan di hadapannya, dia segera bangkit dan berlari menuju kamar neneknya.

Hari demi hari pun berlalu Zara masih terbaring lemah di atas kasurnya, dan nenek sudah melakukan semua usaha yang ia lakukan, tetapi temyata keadaan tidak berpihak kepada mereka.

Kesehatan Zara semakin menurun, dan akhimya nenek pun menyerah.

“Nenek sudah berusaha melakukan segala upaya atas kesembuhan Zara,” ucap nenek berusaha terlihat tegar.

SEMUANYA TENTANG ZELLA Cerpen Nadhifa Salsabila   Suara koper dengan roda empat itu terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer ber...