BAYANGAN
TERAKHIR
Cerpen Nadia
Ma’rufah
Hujan mengguyur
kota dengan deras, membasahi jalanan yang sepi di tengah malam. Kilatan petir
sesekali menyambar, menerangi gedung-gedung tua yang sudah penuh coretan. Di
sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota, seorang pria bertubuh kekar
tengah duduk di kursi kayu dengan tangan terikat ke belakang. Wajahnya penuh
luka lebam, darah mengering di sudut bibirnya. Dua pria bersenjata berdiri di
sampingnya, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan dingin. Di depan
mereka, seorang lelaki berjas hitam berdiri dengan ekspresi penuh kepuasan. Dia
adalah Vicenzo Cassano bos mafia yang menguasai separuh kota int.
“Jadi kau pikir
bisa mengkhianatiku, huh?” suaranya dingin seperti belati yang menusuk. Pria
yang terikat itu, Carlie De Hazel, tersenyum meskipun bibimya berdarah.
“Kau tahu aku
tidak pernah bekeŞa setengah-setengah, Vicenzo,” jawabnya lirih
“Kalau aku
ingin mengkhianatimu, aku sudah melakukannya sejak lama.”
Vicenzo tertawa
kecil, lalu menunduk mendekati Carlie, “Kau membunuh Giovanni, tangan kananku.
Kau pikir aku akan membiarkan itu begitu saja?”
Carlie menelan
ludah. Dia memang telah membunuh Giovanni, tapi bukan karena pengkhianatan, itu
adalah jebakan yang dibuat seseorang dari dalam organisasi Vicenzo sendiri.
Sayangnya, tidak ada yang pereaya pada kata-kata seorang pria yang sudah
dianggap musuh. Vicenzo memberi isyarat pada anak buahnya. Salah satu dari
mereka menghantamkan popor senjata ke perut Carlie, membuatnya terbatuk dan
memuntahkan darah.
“Berikan aku
alasan untuk tidak membunuhmu sekarang,” kata Vicenzo menarik pistol dari balik
jasnya.
Carlie
mengangkat kepalanya perlahan menatap mata Franco, “Karena ada sesuatu yang
lebih besar dari ini semua,” katanya. “Kau tahu siapa yang benar-benar
mengkhianatimu?”
Vicenzo
menyipitkan matanya “Jangan buang waktuku, Carlie.”
Carlie menarik
napas panjang sebelum berkata, “Paolo.”
Hening. Orang-orang
di dalam gudang itu saling berpandangan. Paolo Ricci adalah orang kepercayaan
Vicenzo. Tidak mungkin dia berkhianat. Vicenzo tertawa tapi ada keiaguan dalam
tatapannya.
“Kau berbohong,”
ujar Vicenzo tidak pereaya. Carlie menggeleng.
“Coba pikirkan.
Siapa yang pertama kali mengatakan bahwa akulah pengkhianatnya? Siapa yang
memancing Giovanni ke perangkap itu? Dan siapa yang selalu ada di sisimu, tapi
justru ingin kau ati agar bisa mengambil alih kekuasaan?”
Vicenzo mulai
terlihat ragu. Dia mulai melirik salah satu anak buahnya, memberi isyarat agar
mereka menyelidikinya Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar. Gudang
mendadak gempar. Vicenzo dan anak buahnya berhamburan mencari perlindungan.
Carlie menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan kursinya ke samping,
berusaha melepaskan ikatan tangannya. Pintu gudang terbuka. Seorang pria beıjas
abu-abu berdiri di ambang pintu, memegang senapan serbu. Matanya dingin seperti
es. Paolo Ricci.
“Sia1,” gumam
Vicenzo.
Paolo tidak
membuang waktu. Dia menembak dua anak buah Vicenzo dalam satu tarikan napas.
Peluru bersarang di kepala mereka sebelum mereka sempat menarik pelatuknya
Carlie berhasil membebaskan dirinya dan segera berlindung di balik peti kayu.
Vicenzo mengangkat pistolnya, tapi Paolo lebih cepat. Dia menembak dada
Vicenzo, membuat bos mafia itu terhuyung ke belakang, darah segar mengalir di
jas mahalnya. Paolo melangkah mendekat, menodongkan senjatanya ke kepala
Vicenzo yang jatuh terduduk.
“Aku sudah
sangat bosan menunggumu mati dengan cara alami, Vicenzo,” katanya sambil
tersenyum dingin.
Carlie merayap
ke sisi lain gudang, mengambil pistol dari salah satu anak buah Vicenzo.
Dia mengangkat senjatanya, mengarahkan ke Paolo.
“Permainan
selesai, Ricci.”
Paolo menoleh,
mendapati Carlie berdiri dengan pistol siap menembak. “Kau masih hidup
rupanya.” katanya sinis.
Carlie
tersenyurn miring.
“Aku memang
berencana mati malam ini, tapi bukan di tangan bajingan sepertimu,” Paolo
tertawa kecil.
“Kalau begitu,
ayo kita akhiri ini.”
Tiba-tiba suara
langkah kaki terdengar dari belakang sebelum Carlie sempat bereaksi, Vicenzo
yang sekarat mengangkat pistolnya dan menarik pelatuk. Peluru melesat, tepat
mengenai dada Paolo. Paolo terhuyung matanya terbelalak tidak percaya. Dia
mencoba menembak Carlie, tapi tangannya gemetar. Dalam sekejap, Carlie
melepaskan dua tembakan ke kepala Paolo, dan mengakhiri segalanya.
Gudang menjadi
sunyi. Carlie menoleh ke arah Vicenzo yang tersandar di dinding, darah mengalir
deras di dadanya. Vicenzo tertawa lirih.
“Setidaknya aku
tidak mati di tangan pengkhianat,” gumamnya. Carlie mendekat, berjongkok di
samping Vicenzo.
“Aku bisa
menyelamatkanmu,” Vicenzo menggeleng lemah.
“Tidak perlu,”
katanya lalu menyerahkan sesuatu ke tangan Carlie. Sebuah kunci.
Carlie
mengernyit, “Apa ini?”
Vicenzo
tersenyum samar, “Kunci sebuah rekening yang berisi seluruh uangku.. .dan
identitas baru untukmu. Mulailah hidup baru, Carlie.”
Napas Vicenzo
mulai melambat. Dalam beberapa detik, dia menghembuskan napas terakhirnya.
Carlie menatap kunci itu lama, sebelum akhirnya berdiri dan melangkah keluar
gudang. Hujan masih turun deras. Tanpa menoleh ke belakang. Carlie berjalan
menuju kegelapan malam dan meninggalkan kehidupan lamanya. Namun, di dalam
benaknya, dia tahu... dunia bayangan tidak pernah benar-benar melepaskannya.
No comments:
Post a Comment