Monday, December 29, 2025

 

BAYANGAN TERAKHIR

Cerpen Nadia Ma’rufah

 

Hujan mengguyur kota dengan deras, membasahi jalanan yang sepi di tengah malam. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi gedung-gedung tua yang sudah penuh coretan. Di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota, seorang pria bertubuh kekar tengah duduk di kursi kayu dengan tangan terikat ke belakang. Wajahnya penuh luka lebam, darah mengering di sudut bibirnya. Dua pria bersenjata berdiri di sampingnya, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan dingin. Di depan mereka, seorang lelaki berjas hitam berdiri dengan ekspresi penuh kepuasan. Dia adalah Vicenzo Cassano bos mafia yang menguasai separuh kota int.

“Jadi kau pikir bisa mengkhianatiku, huh?” suaranya dingin seperti belati yang menusuk. Pria yang terikat itu, Carlie De Hazel, tersenyum meskipun bibimya berdarah.

“Kau tahu aku tidak pernah bekeŞa setengah-setengah, Vicenzo,” jawabnya lirih

“Kalau aku ingin mengkhianatimu, aku sudah melakukannya sejak lama.”

Vicenzo tertawa kecil, lalu menunduk mendekati Carlie, “Kau membunuh Giovanni, tangan kananku. Kau pikir aku akan membiarkan itu begitu saja?”

Carlie menelan ludah. Dia memang telah membunuh Giovanni, tapi bukan karena pengkhianatan, itu adalah jebakan yang dibuat seseorang dari dalam organisasi Vicenzo sendiri. Sayangnya, tidak ada yang pereaya pada kata-kata seorang pria yang sudah dianggap musuh. Vicenzo memberi isyarat pada anak buahnya. Salah satu dari mereka menghantamkan popor senjata ke perut Carlie, membuatnya terbatuk dan memuntahkan darah.

“Berikan aku alasan untuk tidak membunuhmu sekarang,” kata Vicenzo menarik pistol dari balik jasnya.

Carlie mengangkat kepalanya perlahan menatap mata Franco, “Karena ada sesuatu yang lebih besar dari ini semua,” katanya. “Kau tahu siapa yang benar-benar mengkhianatimu?”

Vicenzo menyipitkan matanya “Jangan buang waktuku, Carlie.”

Carlie menarik napas panjang sebelum berkata, “Paolo.”

Hening. Orang-orang di dalam gudang itu saling berpandangan. Paolo Ricci adalah orang kepercayaan Vicenzo. Tidak mungkin dia berkhianat. Vicenzo tertawa tapi ada keiaguan dalam tatapannya.

“Kau berbohong,” ujar Vicenzo tidak pereaya. Carlie menggeleng.

“Coba pikirkan. Siapa yang pertama kali mengatakan bahwa akulah pengkhianatnya? Siapa yang memancing Giovanni ke perangkap itu? Dan siapa yang selalu ada di sisimu, tapi justru ingin kau ati agar bisa mengambil alih kekuasaan?”

Vicenzo mulai terlihat ragu. Dia mulai melirik salah satu anak buahnya, memberi isyarat agar mereka menyelidikinya Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar. Gudang mendadak gempar. Vicenzo dan anak buahnya berhamburan mencari perlindungan. Carlie menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan kursinya ke samping, berusaha melepaskan ikatan tangannya. Pintu gudang terbuka. Seorang pria beıjas abu-abu berdiri di ambang pintu, memegang senapan serbu. Matanya dingin seperti es. Paolo Ricci.

“Sia1,” gumam Vicenzo.

Paolo tidak membuang waktu. Dia menembak dua anak buah Vicenzo dalam satu tarikan napas. Peluru bersarang di kepala mereka sebelum mereka sempat menarik pelatuknya Carlie berhasil membebaskan dirinya dan segera berlindung di balik peti kayu. Vicenzo mengangkat pistolnya, tapi Paolo lebih cepat. Dia menembak dada Vicenzo, membuat bos mafia itu terhuyung ke belakang, darah segar mengalir di jas mahalnya. Paolo melangkah mendekat, menodongkan senjatanya ke kepala Vicenzo yang jatuh terduduk.

“Aku sudah sangat bosan menunggumu mati dengan cara alami, Vicenzo,” katanya sambil tersenyum dingin.

Carlie merayap ke sisi lain gudang, mengambil pistol dari salah satu anak buah Vicenzo. Dia mengangkat senjatanya, mengarahkan ke Paolo.

“Permainan selesai, Ricci.”

Paolo menoleh, mendapati Carlie berdiri dengan pistol siap menembak. “Kau masih hidup rupanya.” katanya sinis.

Carlie tersenyurn miring.

“Aku memang berencana mati malam ini, tapi bukan di tangan bajingan sepertimu,” Paolo tertawa kecil.

“Kalau begitu, ayo kita akhiri ini.”

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang sebelum Carlie sempat bereaksi, Vicenzo yang sekarat mengangkat pistolnya dan menarik pelatuk. Peluru melesat, tepat mengenai dada Paolo. Paolo terhuyung matanya terbelalak tidak percaya. Dia mencoba menembak Carlie, tapi tangannya gemetar. Dalam sekejap, Carlie melepaskan dua tembakan ke kepala Paolo, dan mengakhiri segalanya.

Gudang menjadi sunyi. Carlie menoleh ke arah Vicenzo yang tersandar di dinding, darah mengalir deras di dadanya. Vicenzo tertawa lirih.

“Setidaknya aku tidak mati di tangan pengkhianat,” gumamnya. Carlie mendekat, berjongkok di samping Vicenzo.

“Aku bisa menyelamatkanmu,” Vicenzo menggeleng lemah.

“Tidak perlu,” katanya lalu menyerahkan sesuatu ke tangan Carlie. Sebuah kunci.

Carlie mengernyit, “Apa ini?”

Vicenzo tersenyum samar, “Kunci sebuah rekening yang berisi seluruh uangku.. .dan identitas baru untukmu. Mulailah hidup baru, Carlie.”

Napas Vicenzo mulai melambat. Dalam beberapa detik, dia menghembuskan napas terakhirnya. Carlie menatap kunci itu lama, sebelum akhirnya berdiri dan melangkah keluar gudang. Hujan masih turun deras. Tanpa menoleh ke belakang. Carlie berjalan menuju kegelapan malam dan meninggalkan kehidupan lamanya. Namun, di dalam benaknya, dia tahu... dunia bayangan tidak pernah benar-benar melepaskannya.

No comments:

Post a Comment

SEMUANYA TENTANG ZELLA Cerpen Nadhifa Salsabila   Suara koper dengan roda empat itu terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer ber...