HARAPAN YANG TERLIPAT
Cerpen Meyga Diyetri
Di atas meja yang dipenuhi tumpukan kertas berwana-wami dengan motif, bahkan ada beberapa yang polos, dua saudara kembar duduk berhadapan. Kedua tangan kecil mereka saling berpadu, melipat-lipat kertas dengan penuh kehatihatian membentuk angsa dari kertas tersebut. Dalam diamnya, tumpukan kertas dihadapan mereka telah berubah menjadi angsa.
Zara dan Zila, dua gadis yang selalu bersama. Sejak kecil, mereka tidak pernah terpisahkan. Mereka bermain, belajar, dan bahkan tidur di dekatnya. Langit-langit kamar mereka dipenuhi angsa lipat yang bergantungan di sana, seolah-olah angsa-angsa itu ada di sekitar mereka.
Setiap malam, sebelum tidur, Zara dan Zila akan berbaring di tempat tidur mereka dan berbicara tentang masa depan, sambil menatap angsa-angsa yang bergantungan di atas mereka, yang menjadi simbol dan harapan dari mimpi mereka yang tak terpisahkan. Mereka bercita-cita untuk tetap tinggal bersama nenek mereka, yang dikenal sebagai penyembuh herbal dan menjalani hidup sederhana di desa ini.
Suatu hari, Zila mulai merasa tidak enak badan. Hanya kelelahan biasa, tetapi semakin lama dia merasa tubuhnya semakin lemah. Zara yang sangat khawatir akhirnya m emanggil nenek mereka untuk memeriksa Zila. Dengan telaten nenek memberikan illa ramuan-ramuan herbal yang ia miliki.
Hari demi hari bergulir berganti, dengan keadaan Zila yang semakin melemah. Meskipun nenek berusaha menyembuhkan Zila dengan tanaman herbal dan doa-doa, tubuh Zila tidak juga menunjukkan adanya pemulihan. Zara merasa hancur mengetahui kondisi saudara kembamya yang tak kunjung sembuh. Setiap malam. Zara melipat kertas angsa untuk bella dan menaruhnya di atas rak di samping tempat tidur Zila.
“Ra, aku takut kita tidak akan bisa terbang lagi seperti dulu,” ungkap Zila lemah.
Zara memegang tangan Zila dengan erat. “Jangan terlalu banyak berpikir, percaya pada kemampuan nenek dan kita akan selalu Bersama,” ucap Zara berusaha meyakinkan Zila bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Zila tersenyum tipis, namun senyuman itu seolah tak bisa menutupi rasa sakit yang semakin parah, dan Zara menyadari akan hal itu.
Setelah Zila sudah tertidur lelap, Zara menghampiri sang nenek di kamamya yang sedang berkutat dengan beberapa tanaman herbal di hadapannya.
“Nenek, masih ada harapan untuk Zila?” tanya Zara berharap.
“Nenek harap juga begitu,” ucap nenek menghela napas panjang.
“Nenek tidak boleh ragu,” khawatir Zara melihat raut wajah neneknya yang sudah pasrah. Nenek mengangguk pelan dan tersenyum kecil.
“Tidak perlu khawatir,” pesan nenek meyakinkan Zara.
hari Sepanjang Zara selalu berada di sisi pembaringan Zila, untuk merawat dan menemaninya, bahkan terkadang ia lupa akan dirinya sendiri.
“Zara sudah larut, sebaiknya kamu segera beristirahat,” tegur nenek lembut. Zara menenangkan kepalanya dengan cepat.
“Aku masih mau menemani Zila di sini, Nek,” ungkap Zara.
“Tapi kamu juga
butuh'istirahat yang teratur,” ucap nenek khawatir.
“Baiklah, aku akan
istirahat sekarang,” ucap Zara mengalah, sebelum dia ke luar dari ruangan itu, dia
menatap Zila sekîlas lalu segera pergi ke kamar tidurnya.
***
Sudah lima hari
ini Zara merasakan batuk yang terasa sangat sakit, dan kepalanya yang cukup sering
terasa seperti berputar-putar. Tetapi ia selalu menepis pikirannya yang tidak-tidak.
“Zara!” panggil
Zila antusias yang melihat Zara memijit pangkal hidungnya.
“Kamu kenapa meninggalkan
tempat tidurmu?” tanya Zara khawatir dan segera menghampiri Zila yang berdiri di
bibir pintu, lalu menuntunnya masuk untuk duduk.
“Badanku sudah sehat,
tidak sakit lagi tadi nenek memberiku obat yang baru beliau pelajari.”
“Tetap saja belum
pulih sepenuhnya bukan? Harus banyak beristirahat,” protes Zara.
“Lalu bagaimana
denganmu? Kenapa kamu memijat pangkal hidungmu”
“Hanya pusing sedikit,
tidak akan parah sepertimu ‘kan?” singgung Zara mencoba untuk tidak membuat Zila
khawatir.
Zila hanya memutar
kedua matanya malas, sedangkan Zara terkekeh pelan.
Lama-kelamaan Zara
mengalami gejala yang memburuk seperti sesak napas, letih, dan pandangan yang kabur.
Tetapi lagi dan lagi dia hanya menepis pikiran buruk tentangnya, dan hanya meminum
obat herbal biasa saja.
“Sudah lama kita
tidak seperti ini lagi,” seru Zila pada Zara yang duduk di seberangnya dengan tangan
yang masih fokus melipat angsa kertas.
“Buuuk ….”
Zila menoleh, mendengar
suara yang cukup menarik perhatiannya. Matanya membulat sempuma ketika mendapati
Zara yang pingsan di hadapannya, dia segera bangkit dan berlari menuju kamar
neneknya.
Hari demi hari pun
berlalu Zara masih terbaring lemah di atas kasurnya, dan nenek sudah melakukan semua
usaha yang ia lakukan, tetapi temyata keadaan tidak berpihak kepada mereka.
Kesehatan Zara semakin
menurun, dan akhimya nenek pun menyerah.
“Nenek sudah berusaha
melakukan segala upaya atas kesembuhan Zara,” ucap nenek berusaha terlihat tegar.
No comments:
Post a Comment