Monday, December 29, 2025

MENJAGA ALAM, MENJAGA MASA DEPAN


Oleh : Ghaliz Syida Zihni

 

Alam telah memberikan banyak keuntungan bagi manusia, mulai dari kebutuhan dasar hingga kelangsungan hidup. Hutan yang hijau dan lebat menyediakan oksigen yang kita hirup setiap hari. Sungai-sungai yang mengalir jerrich memberikan air bersih yang kita butuhkan untuk minum, mandi, dan mencuci. Bumi yang subur memberikan kita makanan yang melimpah. Namun, kenyataan lingkungan kita sekarang sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, banyak masyarakat yang tidak peduli dengan Kelestarian alam. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil wawancara kami bersama masyarakat.

“Apa pendapat kalian tentang hutan yang makin gundul?” tanya salah satu anggota kami.

“Gak masalah, yang penting gak ngaruh ke aku, “jawab remaja yang berambut keriting, bernama Anton.

“Iya, gak penting penting banget sih.” Tambah teman sebelahnya.

“Bagaimana kalian berpikir tentang masa depan lingkungan?”

“Nggak kepikiran, masih lama.”

“Teknologi yang atasi, kita gak perlu mikirin.”

“Pesan apa yang kamu ingin sampaikan?”

“Lakukan apa yang kamu mau. Jangan tertalu serius, hidup santai aja.” Ucap Anton tanpa ragu.

Nyata benar ketidakpedulian mereka terhadap lingkungan, dapat mencerminkan begitu banyak manusia yang masih mementingkan keuntungan pribadi yang sesaat. Mereka menebangi hutan secara liar, mencemari sungai, dan mengotori laut. Mereka tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka, yang penting mereka mendapatkan keuntungan sesaat.

Sebaliknya, disamping ketidakpedulian mereka ada juga orang-orang yang peduli seperti penulis-penulis yang terinspirasi untuk berkarya tentang alam, salah satunya. “ Silent Spring” oleh Rachel Carson diterbitkan pada tahun 1962. Silent Spring dianggap sebagai salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah gerakan lingkungan hidup. Dan ada satu hal lagi yang lebih mengejutkan tentang alam, yaitu… Peran Naticre of science (NOS) dalam pengembangan Literasi sains. Abdict El-Khalick mengarisbawahi bahwa pemahaman Nos bukan sekadar pengetahuan tentang metode ilmiah, melainkan mencakup dimensi yang lebih luas tentang bagaimana aktivitas ilmiah bertangsung sebagai upaya manusia untuk memahami fenomena alam (Abd El-Khalick. F., 2013).

Seperti peribahasa yang mengatakan, “Sambil menyelam, sambil minum air. Artinya, kita harus bisa memanfaatkan alam dengan bijak dan menjaga kelestariannya. Dengan demikian, kita dapat menikmati hasilnya secara berkelanjutan.

Saya teringat akan kisah kecil tentang seorang anak yang menanam pohon. Setelah beberapa tahun, pohon ite tumbuh besar dan memberikan naungan bagi anak-anak lain yang bermain di sekitarnya. Anak itu senang melihat hasilnya dan terus menanam pohon-pohon lainya.

Pertanyaan untuk kita semua, apa yang akan kita lakukan untuk menjaga alam? Apakah kita akan terus merusaknya atau mulai menjaga dan melindunginya? Mari kita berpikir dan bertindak untuk masa depan kita sendiri. Jika bukan kita siapa lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Marsyella, 2004 .Id. 2024. “10 Buku Tengtang Alam Yang Akan Mengubah Cara Anda Melihat Dunia”. ruangbuku.id. Diakses 15 Septemper 2025.

Sri Astutik Handayani. 2025. ”Peran Nature of Science (NOC) Dalam Perkembangan Litesi Sains”. Congnitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Diakses 15 september 2025.

 

BAYANGAN TERAKHIR

Cerpen Nadia Ma’rufah

 

Hujan mengguyur kota dengan deras, membasahi jalanan yang sepi di tengah malam. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi gedung-gedung tua yang sudah penuh coretan. Di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota, seorang pria bertubuh kekar tengah duduk di kursi kayu dengan tangan terikat ke belakang. Wajahnya penuh luka lebam, darah mengering di sudut bibirnya. Dua pria bersenjata berdiri di sampingnya, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan dingin. Di depan mereka, seorang lelaki berjas hitam berdiri dengan ekspresi penuh kepuasan. Dia adalah Vicenzo Cassano bos mafia yang menguasai separuh kota int.

“Jadi kau pikir bisa mengkhianatiku, huh?” suaranya dingin seperti belati yang menusuk. Pria yang terikat itu, Carlie De Hazel, tersenyum meskipun bibimya berdarah.

“Kau tahu aku tidak pernah bekeŞa setengah-setengah, Vicenzo,” jawabnya lirih

“Kalau aku ingin mengkhianatimu, aku sudah melakukannya sejak lama.”

Vicenzo tertawa kecil, lalu menunduk mendekati Carlie, “Kau membunuh Giovanni, tangan kananku. Kau pikir aku akan membiarkan itu begitu saja?”

Carlie menelan ludah. Dia memang telah membunuh Giovanni, tapi bukan karena pengkhianatan, itu adalah jebakan yang dibuat seseorang dari dalam organisasi Vicenzo sendiri. Sayangnya, tidak ada yang pereaya pada kata-kata seorang pria yang sudah dianggap musuh. Vicenzo memberi isyarat pada anak buahnya. Salah satu dari mereka menghantamkan popor senjata ke perut Carlie, membuatnya terbatuk dan memuntahkan darah.

“Berikan aku alasan untuk tidak membunuhmu sekarang,” kata Vicenzo menarik pistol dari balik jasnya.

Carlie mengangkat kepalanya perlahan menatap mata Franco, “Karena ada sesuatu yang lebih besar dari ini semua,” katanya. “Kau tahu siapa yang benar-benar mengkhianatimu?”

Vicenzo menyipitkan matanya “Jangan buang waktuku, Carlie.”

Carlie menarik napas panjang sebelum berkata, “Paolo.”

Hening. Orang-orang di dalam gudang itu saling berpandangan. Paolo Ricci adalah orang kepercayaan Vicenzo. Tidak mungkin dia berkhianat. Vicenzo tertawa tapi ada keiaguan dalam tatapannya.

“Kau berbohong,” ujar Vicenzo tidak pereaya. Carlie menggeleng.

“Coba pikirkan. Siapa yang pertama kali mengatakan bahwa akulah pengkhianatnya? Siapa yang memancing Giovanni ke perangkap itu? Dan siapa yang selalu ada di sisimu, tapi justru ingin kau ati agar bisa mengambil alih kekuasaan?”

Vicenzo mulai terlihat ragu. Dia mulai melirik salah satu anak buahnya, memberi isyarat agar mereka menyelidikinya Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar. Gudang mendadak gempar. Vicenzo dan anak buahnya berhamburan mencari perlindungan. Carlie menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan kursinya ke samping, berusaha melepaskan ikatan tangannya. Pintu gudang terbuka. Seorang pria beıjas abu-abu berdiri di ambang pintu, memegang senapan serbu. Matanya dingin seperti es. Paolo Ricci.

“Sia1,” gumam Vicenzo.

Paolo tidak membuang waktu. Dia menembak dua anak buah Vicenzo dalam satu tarikan napas. Peluru bersarang di kepala mereka sebelum mereka sempat menarik pelatuknya Carlie berhasil membebaskan dirinya dan segera berlindung di balik peti kayu. Vicenzo mengangkat pistolnya, tapi Paolo lebih cepat. Dia menembak dada Vicenzo, membuat bos mafia itu terhuyung ke belakang, darah segar mengalir di jas mahalnya. Paolo melangkah mendekat, menodongkan senjatanya ke kepala Vicenzo yang jatuh terduduk.

“Aku sudah sangat bosan menunggumu mati dengan cara alami, Vicenzo,” katanya sambil tersenyum dingin.

Carlie merayap ke sisi lain gudang, mengambil pistol dari salah satu anak buah Vicenzo. Dia mengangkat senjatanya, mengarahkan ke Paolo.

“Permainan selesai, Ricci.”

Paolo menoleh, mendapati Carlie berdiri dengan pistol siap menembak. “Kau masih hidup rupanya.” katanya sinis.

Carlie tersenyurn miring.

“Aku memang berencana mati malam ini, tapi bukan di tangan bajingan sepertimu,” Paolo tertawa kecil.

“Kalau begitu, ayo kita akhiri ini.”

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang sebelum Carlie sempat bereaksi, Vicenzo yang sekarat mengangkat pistolnya dan menarik pelatuk. Peluru melesat, tepat mengenai dada Paolo. Paolo terhuyung matanya terbelalak tidak percaya. Dia mencoba menembak Carlie, tapi tangannya gemetar. Dalam sekejap, Carlie melepaskan dua tembakan ke kepala Paolo, dan mengakhiri segalanya.

Gudang menjadi sunyi. Carlie menoleh ke arah Vicenzo yang tersandar di dinding, darah mengalir deras di dadanya. Vicenzo tertawa lirih.

“Setidaknya aku tidak mati di tangan pengkhianat,” gumamnya. Carlie mendekat, berjongkok di samping Vicenzo.

“Aku bisa menyelamatkanmu,” Vicenzo menggeleng lemah.

“Tidak perlu,” katanya lalu menyerahkan sesuatu ke tangan Carlie. Sebuah kunci.

Carlie mengernyit, “Apa ini?”

Vicenzo tersenyum samar, “Kunci sebuah rekening yang berisi seluruh uangku.. .dan identitas baru untukmu. Mulailah hidup baru, Carlie.”

Napas Vicenzo mulai melambat. Dalam beberapa detik, dia menghembuskan napas terakhirnya. Carlie menatap kunci itu lama, sebelum akhirnya berdiri dan melangkah keluar gudang. Hujan masih turun deras. Tanpa menoleh ke belakang. Carlie berjalan menuju kegelapan malam dan meninggalkan kehidupan lamanya. Namun, di dalam benaknya, dia tahu... dunia bayangan tidak pernah benar-benar melepaskannya.

 

HARAPAN YANG TERLIPAT

Cerpen Meyga Diyetri

  

Di atas meja yang dipenuhi tumpukan kertas berwana-wami dengan motif, bahkan ada beberapa yang polos, dua saudara kembar duduk berhadapan. Kedua tangan kecil mereka saling berpadu, melipat-lipat kertas dengan penuh kehatihatian membentuk angsa dari kertas tersebut. Dalam diamnya, tumpukan kertas dihadapan mereka telah berubah menjadi angsa.

Zara dan Zila, dua gadis yang selalu bersama. Sejak kecil, mereka tidak pernah terpisahkan. Mereka bermain, belajar, dan bahkan tidur di dekatnya. Langit-langit kamar mereka dipenuhi angsa lipat yang bergantungan di sana, seolah-olah angsa-angsa itu ada di sekitar mereka.

Setiap malam, sebelum tidur, Zara dan Zila akan berbaring di tempat tidur mereka dan berbicara tentang masa depan, sambil menatap angsa-angsa yang bergantungan di atas mereka, yang menjadi simbol dan harapan dari mimpi mereka yang tak terpisahkan. Mereka bercita-cita untuk tetap tinggal bersama nenek mereka, yang dikenal sebagai penyembuh herbal dan menjalani hidup sederhana di desa ini.

Suatu hari, Zila mulai merasa tidak enak badan. Hanya kelelahan biasa, tetapi semakin lama dia merasa tubuhnya semakin lemah. Zara yang sangat khawatir akhirnya m emanggil nenek mereka untuk memeriksa Zila. Dengan telaten nenek memberikan illa ramuan-ramuan herbal yang ia miliki.

Hari demi hari bergulir berganti, dengan keadaan Zila yang semakin melemah. Meskipun nenek berusaha menyembuhkan Zila dengan tanaman herbal dan doa-doa, tubuh Zila tidak juga menunjukkan adanya pemulihan. Zara merasa hancur mengetahui kondisi saudara kembamya yang tak kunjung sembuh. Setiap malam. Zara melipat kertas angsa untuk bella dan menaruhnya di atas rak di samping tempat tidur Zila.

“Ra, aku takut kita tidak akan bisa terbang lagi seperti dulu,” ungkap Zila lemah.

Zara memegang tangan Zila dengan erat. “Jangan terlalu banyak berpikir, percaya pada kemampuan nenek dan kita akan selalu Bersama,” ucap Zara berusaha meyakinkan Zila bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Zila tersenyum tipis, namun senyuman itu seolah tak bisa menutupi rasa sakit yang semakin parah, dan Zara menyadari akan hal itu.

Setelah Zila sudah tertidur lelap, Zara menghampiri sang nenek di kamamya yang sedang berkutat dengan beberapa tanaman herbal di hadapannya.

“Nenek, masih ada harapan untuk Zila?” tanya Zara berharap.

“Nenek harap juga begitu,” ucap nenek menghela napas panjang.

“Nenek tidak boleh ragu,” khawatir Zara melihat raut wajah neneknya yang sudah pasrah. Nenek mengangguk pelan dan tersenyum kecil.

“Tidak perlu khawatir,” pesan nenek meyakinkan Zara.

hari Sepanjang Zara selalu berada di sisi pembaringan Zila, untuk merawat dan menemaninya, bahkan terkadang ia lupa akan dirinya sendiri.

“Zara sudah larut, sebaiknya kamu segera beristirahat,” tegur nenek lembut. Zara menenangkan kepalanya dengan cepat.

“Aku masih mau menemani Zila di sini, Nek,” ungkap Zara.

“Tapi kamu juga butuh'istirahat yang teratur,” ucap nenek khawatir.

“Baiklah, aku akan istirahat sekarang,” ucap Zara mengalah, sebelum dia ke luar dari ruangan itu, dia menatap Zila sekîlas lalu segera pergi ke kamar tidurnya.

***

 

Sudah lima hari ini Zara merasakan batuk yang terasa sangat sakit, dan kepalanya yang cukup sering terasa seperti berputar-putar. Tetapi ia selalu menepis pikirannya yang tidak-tidak.

“Zara!” panggil Zila antusias yang melihat Zara memijit pangkal hidungnya.

“Kamu kenapa meninggalkan tempat tidurmu?” tanya Zara khawatir dan segera menghampiri Zila yang berdiri di bibir pintu, lalu menuntunnya masuk untuk duduk.

“Badanku sudah sehat, tidak sakit lagi tadi nenek memberiku obat yang baru beliau pelajari.”

“Tetap saja belum pulih sepenuhnya bukan? Harus banyak beristirahat,” protes Zara.

“Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kamu memijat pangkal hidungmu”

“Hanya pusing sedikit, tidak akan parah sepertimu ‘kan?” singgung Zara mencoba untuk tidak membuat Zila khawatir.

Zila hanya memutar kedua matanya malas, sedangkan Zara terkekeh pelan.

Lama-kelamaan Zara mengalami gejala yang memburuk seperti sesak napas, letih, dan pandangan yang kabur. Tetapi lagi dan lagi dia hanya menepis pikiran buruk tentangnya, dan hanya meminum obat herbal biasa saja.

“Sudah lama kita tidak seperti ini lagi,” seru Zila pada Zara yang duduk di seberangnya dengan tangan yang masih fokus melipat angsa kertas.

“Buuuk ….”

Zila menoleh, mendengar suara yang cukup menarik perhatiannya. Matanya membulat sempuma ketika mendapati Zara yang pingsan di hadapannya, dia segera bangkit dan berlari menuju kamar neneknya.

Hari demi hari pun berlalu Zara masih terbaring lemah di atas kasurnya, dan nenek sudah melakukan semua usaha yang ia lakukan, tetapi temyata keadaan tidak berpihak kepada mereka.

Kesehatan Zara semakin menurun, dan akhimya nenek pun menyerah.

“Nenek sudah berusaha melakukan segala upaya atas kesembuhan Zara,” ucap nenek berusaha terlihat tegar.

SEMUANYA TENTANG ZELLA Cerpen Nadhifa Salsabila   Suara koper dengan roda empat itu terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer ber...